GAZA (HARIANSTAR.COM) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa sistem kesehatan dan kemanusiaan di wilayah Palestina berada di ambang kehancuran akibat perang berkepanjangan, blokade, serta pembatasan bantuan kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza dan Tepi Barat.
Peringatan tersebut muncul di tengah memburuknya kondisi rumah sakit, minimnya pasokan obat-obatan, kerusakan infrastruktur kesehatan, hingga meningkatnya ancaman kelaparan dan wabah penyakit di wilayah Palestina.
WHO menilai situasi kemanusiaan di Gaza kini memasuki fase kritis. Banyak fasilitas kesehatan tidak lagi mampu beroperasi secara normal akibat kerusakan berat, kekurangan bahan bakar, serta terbatasnya akses terhadap bantuan medis.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, sebelumnya juga memperingatkan penyebaran penyakit dan infeksi di Gaza semakin tidak terkendali. Kondisi sanitasi yang buruk, penumpukan sampah, serta rusaknya sistem air bersih memperbesar risiko krisis kesehatan masyarakat secara luas.
Melansir gaza media, Jumat (22/5/2026), laporan Doctors Without Borders (MSF) menyebut hampir 90 persen infrastruktur air dan sanitasi di Gaza mengalami kerusakan atau hancur akibat serangan dan pembatasan berkepanjangan. MSF bahkan menuduh Israel menggunakan akses air sebagai “senjata hukuman kolektif” terhadap warga sipil Palestina.
Kondisi rumah sakit juga dilaporkan semakin memprihatinkan. Banyak fasilitas medis mengalami kekurangan listrik, antibiotik, alat operasi, hingga bahan anestesi. Pasien kanker, bayi prematur, dan penderita penyakit kronis menjadi kelompok paling terdampak akibat lumpuhnya layanan kesehatan.
Di tengah situasi tersebut, badan kemanusiaan PBB OCHA mencatat meningkatnya kekerasan dan tekanan terhadap warga Palestina, termasuk serangan pemukim Israel di Tepi Barat yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan lahan pertanian, serta penghancuran sumber air dan fasilitas dasar masyarakat sipil.
Sejumlah lembaga internasional menilai kehancuran sistem kesehatan Palestina bukan sekadar dampak perang sesaat, melainkan akumulasi dari blokade panjang, pembatasan akses medis, serta penghancuran infrastruktur yang terjadi selama bertahun-tahun. Kajian sejumlah peneliti menyebut Gaza kini menghadapi kondisi “de-healthification”, yakni penghancuran sistematis terhadap kemampuan masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan dan mempertahankan kehidupan.
Sementara itu, akses bantuan kemanusiaan menuju Gaza masih sangat terbatas. Meski perlintasan Rafah sempat dibuka secara terbatas, proses evakuasi pasien dan distribusi bantuan disebut masih jauh dari memadai untuk memenuhi kebutuhan lebih dari dua juta warga Gaza yang terdampak perang.
PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan internasional kini mendesak adanya gencatan senjata permanen serta pembukaan akses bantuan tanpa hambatan guna mencegah kehancuran total sistem kesehatan dan kemanusiaan di Palestina.
“Krisis ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi menyangkut kelangsungan hidup jutaan manusia,” demikian peringatan sejumlah badan kemanusiaan internasional terkait situasi yang terus memburuk di Gaza.



























