TURKI (HARIANSTAR.COM) – Misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla yang berlayar menuju Gaza untuk menembus blokade Israel memasuki situasi genting.
Semua kapal bantuan dilaporkan dicegat militer Israel di perairan internasional Laut Mediterania, sementara beberapa relawan yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) termasuk 3 jurnalis Indonesia dilaporkan hilang kontak setelah sempat mengirim pesan darurat.
Armada yang berangkat dari Marmaris, Turki, itu membawa ratusan relawan internasional, dokter, tenaga medis, dan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara. Mereka membawa bantuan berupa makanan, obat-obatan, susu bayi, hingga air bersih untuk warga Gaza yang selama berbulan-bulan menghadapi krisis kemanusiaan akibat perang dan blokade berkepanjangan.
Di antara peserta misi tersebut terdapat sejumlah warga negara Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai. Keduanya berada di kapal berbeda yang tergabung dalam konvoi besar Global Sumud Flotilla. Selain mereka, sejumlah relawan Indonesia lain juga ikut dalam pelayaran kemanusiaan tersebut.
Ketegangan mulai meningkat ketika kapal-kapal bantuan dilaporkan dibayangi kapal perang Israel sejak memasuki wilayah timur Laut Mediterania. Dalam sejumlah video yang beredar, relawan memperlihatkan kapal militer Israel mendekat dan melakukan manuver intimidatif terhadap armada sipil tersebut.
Melansir gaza media, Rabu (20/5/2026), sebelum komunikasi terputus, Bambang Noroyono sempat mengirim video SOS yang meminta pemerintah Indonesia segera melakukan langkah diplomatik apabila dirinya ditangkap. Dalam video tersebut ia menyebut armada kemanusiaan sedang berada dalam ancaman intersepsi militer Israel.
Laporan media Israel kemudian menyebut pasukan angkatan laut Israel melakukan pencegatan terhadap sebagian kapal Global Sumud Flotilla di sekitar perairan Siprus, sekitar 200 mil laut dari Gaza. Sejumlah aktivis disebut ditahan dan beberapa kapal disita.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dikabarkan telah memantau perkembangan situasi para WNI yang ikut dalam misi tersebut. Berbagai organisasi kemanusiaan di Indonesia juga mendesak adanya tekanan internasional agar seluruh relawan sipil dibebaskan dan misi bantuan kemanusiaan untuk Gaza tidak dihalangi.
Meski menghadapi ancaman intersepsi dan penahanan, penyelenggara Global Sumud Flotilla menegaskan misi kemanusiaan akan terus dilanjutkan. Mereka menyebut pelayaran tersebut merupakan bentuk solidaritas sipil internasional untuk menolak blokade Gaza dan membuka jalur bantuan bagi warga Palestina.



























