MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Di tengah kesibukan mengelola rumah tangga maupun karier, banyak wanita Indonesia kerap mengabaikan sinyal yang diberikan tubuh. Keluhan seperti pusing, kelelahan berkepanjangan, hingga jantung berdebar sering dianggap sebagai akibat stres atau gejala awal menopause, padahal kondisi tersebut bisa menjadi tanda hipertensi yang memerlukan perhatian serius.
Memperingati Hari Hipertensi Sedunia yang diperingati setiap bulan Mei, data kesehatan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Prevalensi penyakit jantung pada wanita di Indonesia kini tercatat lebih tinggi dibandingkan pria, yakni sekitar 1,6 persen. Hipertensi menjadi salah satu faktor risiko utama yang sering tidak terdeteksi hingga menimbulkan komplikasi serius, seperti stroke dan gagal jantung.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Columbia Asia Hospital Aksara, dr. Muhammad Ginanjar, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, menjelaskan bahwa hipertensi pada wanita memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pria.
“Gejala hipertensi pada wanita, terutama pada usia produktif hingga paruh baya, sangat bervariasi dan cenderung tidak khas. Kondisi ini sering membuat mereka mengabaikannya dan menganggapnya sebagai kelelahan biasa,” ujar dr. Ginanjar.
Ia menambahkan, perubahan hormonal, terutama saat memasuki masa menopause, turut memengaruhi elastisitas pembuluh darah wanita sehingga meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
“Jika memiliki riwayat keluarga dengan tekanan darah tinggi, pengendalian yang lebih intensif dan deteksi dini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan,” katanya.
Pentingnya kesadaran terhadap kesehatan jantung juga disampaikan Hospital Director Columbia Asia Hospital Aksara, dr. Mardianto, Sp.PD, K-EMD, FINASIM. Menurutnya, peningkatan literasi kesehatan dan deteksi dini harus menjadi gerakan bersama di tengah masyarakat.
“Kami melihat edukasi yang tepat merupakan langkah awal dalam pencegahan. Dengan mengenali faktor risiko sejak dini, kita tidak hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga menjaga kesejahteraan satu keluarga yang sering kali bertumpu pada peran seorang wanita,” ujarnya.
Sebagai bagian dari komitmen meningkatkan kualitas hidup masyarakat, Columbia Asia Hospital Aksara menghadirkan layanan kardiologi yang mengedepankan pendekatan edukatif dan preventif. Melalui pemeriksaan rutin dan konsultasi dengan dokter spesialis, masyarakat diharapkan lebih proaktif memantau tekanan darah sebelum berkembang menjadi penyakit kronis.
Selain itu, Columbia Asia Hospital Aksara juga menyediakan layanan Skrining Stroke yang dapat dijadikan bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin. Layanan ini bertujuan membantu masyarakat mengenali kondisi kesehatan sejak dini sehingga dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Menurut pihak rumah sakit, langkah proaktif tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri agar tetap produktif dan dapat menjalani berbagai aktivitas penting dalam kehidupan dengan optimal.
Hipertensi kerap disebut sebagai “silent killer” karena sering tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun, dengan kesadaran, pemeriksaan rutin, dan penanganan yang tepat, risiko penyakit ini dapat dikendalikan sehingga masyarakat dapat menjalani hidup yang lebih sehat dan berkualitas. (RED)



























