JAKARTA (HARIANSTAR.COM) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan integritas di lingkungan pendidikan melalui penyelenggaraan kuliah umum bertema “The Guardian of Governance: Membangun Integritas Pemimpin Masa Depan” di tiga perguruan tinggi sebagai bagian dari rangkaian Road to Risk and Governance Summit 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara maraton di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta pada 18 Mei 2026, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto pada 19 Mei 2026, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 22 Mei 2026.
Kuliah umum digelar secara hybrid dan dihadiri sekitar 5.000 peserta, baik secara luring maupun daring, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Yogyakarta, Karesidenan Surakarta, dan Karesidenan Banyumas.
Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Sophia Wattimena, menyampaikan bahwa penguatan governance menjadi fondasi penting dalam memastikan pembangunan berjalan secara berintegritas, akuntabel, dan berkelanjutan.
“Governance memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan pembangunan tidak hanya berjalan cepat, tetapi juga tepat, adil, dan berkelanjutan. Artinya, pembangunan harus dijalankan melalui proses yang berintegritas, akuntabel, dan transparan,” kata Sophia Wattimena dalam kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jumat (22/5/2026).
Sophia juga menegaskan bahwa penguatan integritas perlu dimulai sejak dini agar generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi proses pengambilan keputusan di masa depan.
“Bahasa gaulnya, tidak cuma pintar, tetapi juga memiliki karakter dan integritas yang kuat. Saat dihadapkan pada proses pengambilan keputusan, integritas ini akan sangat berperan,” ujarnya.
Dalam paparannya, Sophia menjelaskan bahwa penerapan tata kelola di sektor jasa keuangan menjadi semakin penting mengingat kompleksitas risiko global dan besarnya eksposur industri jasa keuangan yang diawasi OJK. Saat ini, total aset sektor jasa keuangan yang berada dalam pengawasan OJK mencapai sekitar Rp30 ribu triliun.
Selain itu, Sophia juga menyoroti berbagai tantangan global seperti risiko geopolitik, disinformasi, serangan siber, disrupsi digital, dan perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang memerlukan penguatan governance serta cyber resilience.
OJK, lanjut Sophia, terus mendorong penguatan tata kelola melalui berbagai kebijakan lintas sektor, antara lain strategi anti-fraud, penguatan pengendalian internal pelaporan keuangan, penguatan independensi profesi penunjang sektor jasa keuangan, pengelolaan konflik kepentingan, serta penguatan keamanan teknologi informasi.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor IV Bidang Manajemen Sistem Informasi, Manajemen SDM, dan Organisasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Em Sutrisna, menyampaikan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam membangun kepemimpinan masa depan.
“Nilai IPK saja tidak cukup. Salah satunya adalah integritas dan kejujuran. Dalam bahasa agama, itu tabligh, amanah, fathanah, dan siddiq. Sifat-sifat Rasul tersebut jika dirangkum dalam satu kata, mungkin itulah integritas,” ujar Em Sutrisna.
Pada sesi diskusi, para peserta juga berdialog aktif bersama narasumber OJK mengenai penguatan budaya etika dan governance agar tidak hanya menjadi bentuk kepatuhan administratif, tetapi juga menjadi budaya organisasi yang diterapkan secara nyata.
Selain itu, OJK turut menyosialisasikan pelaksanaan Risk and Governance Summit 2026, termasuk Innovation Paper Competition yang bertujuan mendorong mahasiswa menyampaikan gagasan, inovasi, dan rekomendasi kebijakan dalam mendukung pengembangan sektor jasa keuangan yang berintegritas dan kredibel.
Melalui kegiatan ini, OJK berharap generasi muda dapat menjadi calon pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, serta kemampuan adaptif dalam menghadapi dinamika global dan transformasi digital.



























