LANGKAT (HARIANSTAR.COM) – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momen ini menjadi refleksi bahwa perjuangan perempuan Indonesia atas tubuh dan hak kesehatannya belum sepenuhnya usai, bahkan setelah lebih dari satu abad sejak era Raden Ajeng Kartini.
Kartini, pelopor emansipasi perempuan, wafat di usia muda usai melahirkan. Ia diduga mengalami komplikasi kehamilan seperti preeklamsia, kondisi tekanan darah tinggi yang membahayakan ibu dan bayi. Pada masa itu, isu kesehatan reproduksi nyaris tidak pernah dibicarakan, dianggap tabu dan tersembunyi.
Situasi tersebut rupanya masih menyisakan jejak hingga kini. Di Desa Pantai Cermin, Kabupaten Langkat, upaya memutus “sunyi” kesehatan reproduksi mulai dilakukan melalui pelatihan peningkatan kapasitas perempuan dan remaja pada 13–14 April 2026.

Kegiatan yang difasilitasi oleh Aliansi Sumut Bersatu ini mengangkat isu penting seperti kesehatan reproduksi, pencegahan kehamilan tidak direncanakan, serta kekerasan berbasis gender dan seksual, topik yang dahulu hampir tak memiliki ruang untuk dibahas.
Pelatihan menghadirkan fasilitator seperti Veryanto Sitohang bersama tim penyelenggara, yakni Eva Indriani, Carolina Simanjuntak, Lian Zalukhu, dan Heri Syahputra. Kehadiran mereka dinilai mampu menciptakan ruang aman bagi peserta untuk berdialog secara terbuka.
“Perempuan harus punya akses informasi yang benar tentang tubuhnya sendiri. Tanpa itu, kita hanya mengulang sejarah yang sama,” tegas Veryanto dalam pembukaan kegiatan.
Program ini merupakan bagian dari respon bencana Sumatera yang dijalankan Aliansi Sumut Bersatu bersama Yayasan IPAS. Fokusnya adalah memastikan perempuan dan remaja terdampak bencana memperoleh akses layanan kontrasepsi secara tepat waktu, serta perlindungan dari kekerasan berbasis gender.
Di Sumatera Utara, program ini dipusatkan di Kabupaten Langkat, khususnya Desa Pantai Cermin, Kecamatan Tanjung Pura, wilayah yang dinilai memiliki kerentanan terhadap bencana sekaligus keterbatasan akses layanan kesehatan reproduksi.
Selama dua hari pelatihan, peserta diajak membongkar pemahaman lama terkait gender. Mereka mulai memahami bahwa banyak hal yang selama ini dianggap sebagai “kodrat perempuan” sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang dapat berubah.
Pembahasan semakin mengemuka saat isu kekerasan terhadap perempuan disampaikan oleh Ferry Wira Padang. Ia menekankan bahwa kekerasan berbasis gender masih tinggi, bahkan berkembang ke ranah digital. Banyak korban memilih diam karena takut, malu, dan minim dukungan.
Pada hari kedua, materi kesehatan reproduksi yang disampaikan Supriadi menyoroti dampak kurangnya edukasi, terutama bagi remaja. Minimnya pengetahuan dapat meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan, infeksi menular seksual, hingga pengambilan keputusan yang berisiko.
Fakta tersebut menegaskan bahwa ketika pengetahuan tidak tersedia, mitos akan mengambil alih dan perempuan sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan.
Aliansi Sumut Bersatu juga menyampaikan apresiasi kepada Puskesmas Pantai Cermin, pemerintah desa setempat, serta Pemerintah Kabupaten Langkat atas dukungan terhadap program ini. Komitmen bersama untuk memperbaiki layanan kesehatan reproduksi dan perlindungan dari kekerasan berbasis gender dinilai sebagai langkah penting.
Pelatihan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga upaya membuka ruang bagi perempuan untuk bertanya, memahami, dan melindungi diri, sesuatu yang tidak dimiliki Kartini pada masanya.
Kini, tantangan bukan lagi sekadar membuka suara, tetapi memastikan tidak ada perempuan yang harus menghadapi risiko kesehatan dan kekerasan dalam ketidaktahuan.



























