MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Provinsi Sumatera Utara dikenal sebagai salah satu wilayah paling majemuk di Indonesia sehingga sering juga disebut sebagai miniatur Indonesia.
hampir semua etnis atau suku di Indonesia ada yang bertempa tinggal di Sumatera Utara, Sementara itu etnis pendatang yang berasal dari luar Indonesia seperti masyarakat India dan Tionghoa juga telah hidup berdampingan selama berabad-abad dan kini diakui sebagai bagian dari etnis Sumatera Utara.
Di Indonesia sendiri, etnis India yang populasinya paling banyak terdapat di Sumatera Utara telah memberi kontribusi penting dalam bidang seni, ekonomi, hingga kebudayaan lokal. Tradisi mereka turut berpadu dengan nilai-nilai masyarakat lain, termasuk masyarakat Jawa yang juga memiliki populasi besar di provinsi ini.
Karena alasan ini, Rumah Literasi Ranggi (RLR) sebagai salah satu komunitas penerima manfaat dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara melaksanakan Program Fasilitasi Pelestarian Kebudayaan Gelombang 2 bertajuk SAMUDERA CINTA NUSANTARA yang akan mengangkat Perkawinan Adat Etnik India dan Jawa.
Acara ini, akan dilaksanakan pada Sabtu (22/11/2025) mendatang di salah satu kafe di Kota Medan dan diisi dengan pentas alkulturasi perkawinan adat dengan menampilkan prosesi simbolik pernikahan adat Jawa dilengkapi dengan musik pengiring (gamelan & tabla), penari, dan busana adat kedua etnis.
Ada juga pameran mini kuliner India dan Jawa serta ritual simbolik & doa bersama untuk persatuan budaya prosesi doa lintas budaya sebagai simbol harmoni dan penghormatan tradisi. Hal ini disampaikan Ketua Yayasan RLR, Ranggini kepada Harianstar.com, Rabu (20/11/2025).
Ranggini mengatakan akulturasi budaya paling nyata banyak terjadi akibat perkawinan silang antar suku bangsa yang kemudian setelah sekian lama diserap bahkan menjadi budaya atau tradisi yang dianggap lumrah dan menambah kekayaan ragam budaya Nusantara.
Kekayaan budaya ini tentu saja harus terus dijaga dan dilestarikan khususnya bagi generasi muda yang kini sangat mudah menyerap berbagai macam budaya luar melalui sarana internet yang selalu ada dalam genggaman.
“Yayasan Rumah Literasi Ranggi Indonesia yang menjadi ruang pendidikan alternatif berupaya agar kekayaan budaya ikut terjaga dan memberikan edukasi terkait hal ini khususnya kepada generasi muda. Wujud nyata akulturasi yang menarik untuk ditampilkan adalah perkawinan adat, sebuah peristiwa sosial yang sarat nilai, simbol, dan ritual. Inilah alasan kami gelar festival ini,” ujarnya.
Menurutnya, perpaduan unsur budaya India dan Jawa menghadirkan keindahan tersendiri dalam busana, musik, tarian, hingga tata upacara yang mencerminkan filosofi cinta tanpa sekat budaya. “Melalui Cinta dapat menyatukan perbedaan dan melalui Budaya dapat menautkan persaudaraan,” ujar Ranggini.
Selain itu, acara ini diharap Ranggini bisa menjadi wadah kolaborasi seniman, budayawan, dan komunitas literasi serta memberikan kontribusi terhadap dokumentasi dan promosi keberagaman budaya Sumatera Utara.
“Kami juga berharap acara ini bisa mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pelestarian budaya lokal. Generasi Muda lebih mengenali adat istiadat etnis budaya Nusantara khususnya dari suku Jawa dan India yang sudah menjadi bagian dari keberagaman di Sumatera Utara dan mereka selanjutnya bisa lebih memahami nilai-nilai toleransi dan persatuan,” tutupnya. (PUT)



























