DELISERDANG (HARIANSTAR.COM)- Kendati mendapatkan kesempatan sekolah secara gratis, 20 siswa Sekolah Rakyat di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, justru memutuskan mengundurkan diri.
Mereka telah menjalani pendidikan selama 50 hari di sekolah yang seluruhnya difasilitasi oleh negara tersebut.
Dinas Sosial Kabupaten Deli Serdang mencatat, alasan para siswa keluar cukup beragam, mulai dari tidak betah jauh dari orang tua hingga kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kabid Perlindungan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Deli Serdang, Khairuddin Hariman Siregar, mengatakan ada siswa yang memilih pulang karena tidak sanggup tinggal berjauhan dengan keluarga.
Sebaliknya, ada pula orang tua yang datang menjemput anaknya karena merasa tidak sanggup berpisah terlalu lama.
“Ya kita tanya ada yang memang enggak bisa enggak dekat sama orangtua. Ada juga yang malah orangtuanya jemput karena enggak bisa jauh sama anaknya. Ada sekitar 20 orang juga itu yang sudah keluar sampai sekarang,” ujar Khairuddin, dilansir dari sejumlah laman.
Faktor teman juga jadi alasan lain. Khairuddin yang akrab disapa Rudi mengatakan, selain faktor keluarga, lingkungan pertemanan di kampung juga menjadi salah satu alasan siswa memilih keluar dari Sekolah Rakyat.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada satu jenjang pendidikan.
Menurut Rudi, siswa yang keluar berasal dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Kursi yang ditinggalkan para siswa itu akan segera diisi oleh calon siswa pengganti.
“Ini saya mau ke Hamparan Perak ini (ke Sekolah Rakyat) cek pengganti. Ya kan ada cadangan juga dan mau dibuat rapat pleno. Untuk penggantinya ini akan diplenokan bersama BPS, Kemensos, Inspektorat dan Dinsos Provinsi,” kata Rudi.
Pengganti dicari lewat aplikasi SETARA Rudi menjelaskan, calon pengganti siswa yang mundur akan dicari melalui aplikasi SETARA milik Kementerian Sosial.
Dari aplikasi tersebut, pemerintah dapat melihat jangkauan calon siswa yang memenuhi kriteria untuk masuk Sekolah Rakyat.
Prioritas diberikan kepada anak-anak yang berada dalam kelompok Desil 1 dan Desil 2.
Mereka menjadi kelompok yang diutamakan dalam proses penerimaan siswa pengganti. Proses penetapan calon pengganti akan dilakukan melalui rapat pleno yang melibatkan sejumlah instansi terkait.
Para siswa baru sekitar 50 hari tinggal dan menjalani kegiatan di sekolah tersebut.
Mereka mulai masuk pada 30 Juli 2026.
Waktu masuk para siswa lebih lambat dibandingkan sekolah lain karena pembangunan gedung saat awal tahun ajaran baru belum sepenuhnya rampung.
Meski seluruh biaya hidup dan pendidikan ditanggung, sebagian siswa tetap memilih mundur karena belum mampu beradaptasi dengan kehidupan jauh dari keluarga.
Pemerintah daerah kini menyiapkan calon pengganti untuk mengisi kursi yang ditinggalkan para siswa tersebut. (*)




















