• Latest
  • Trending
  • All
Banjir Gelondongan Kayu dan Eksploitasi Hutan Sijantung Aceh Tamiang Tak Bisa Disangkal

Banjir Gelondongan Kayu dan Eksploitasi Hutan Sijantung Aceh Tamiang Tak Bisa Disangkal

19 Desember 2025
Jalan Air Bersih Rawan Kecelakaan, Fauzi Janji Buatkan Polisi Tidur

Jalan Air Bersih Rawan Kecelakaan, Fauzi Janji Buatkan Polisi Tidur

22 Februari 2026
Sindikat Narkoba Jaringan Internasional Ditangkap di Tanjung Balai-Asahan

Sindikat Narkoba Jaringan Internasional Ditangkap di Tanjung Balai-Asahan

22 Februari 2026
Razia Gabungan Polres Karo Amankan 10 Orang, Antisipasi Penyakit Masyarakat Saat Ramadan

Razia Gabungan Polres Karo Amankan 10 Orang, Antisipasi Penyakit Masyarakat Saat Ramadan

22 Februari 2026
Usai Tarawih, Ribuan Warga Medan Larut dalam Kemeriahan Imlek, Rico Waas : Kekuatan Medan Terletak Pada Kemajemukan Warganya

Usai Tarawih, Ribuan Warga Medan Larut dalam Kemeriahan Imlek, Rico Waas : Kekuatan Medan Terletak Pada Kemajemukan Warganya

22 Februari 2026
Rico Waas Apresiasi Kinerja Polrestabes Medan, Pemberantasan Narkoba Semakin Diperkuat

Rico Waas Apresiasi Kinerja Polrestabes Medan, Pemberantasan Narkoba Semakin Diperkuat

22 Februari 2026
Oalah, Si Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay

Oalah, Si Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay

22 Februari 2026
Infrastruktur Kawasan Industri Medan II Mabar Memprihatinkan, Jalan Berlubang dan Lampu Padam Tuai Sorotan

Infrastruktur Kawasan Industri Medan II Mabar Memprihatinkan, Jalan Berlubang dan Lampu Padam Tuai Sorotan

22 Februari 2026
Kinerja 100 Hari Pemberantasan Narkoba: Polrestabes Medan Sita 156 Kg Sabu, Amakan 718 Tersangka

Kinerja 100 Hari Pemberantasan Narkoba: Polrestabes Medan Sita 156 Kg Sabu, Amakan 718 Tersangka

22 Februari 2026
Link Video Teh Pucuk 17 Menit KKN Lombok Masih Hangat dan Diburu Warganet: Intip Aksinya!

Link Video Teh Pucuk 17 Menit KKN Lombok Masih Hangat dan Diburu Warganet: Intip Aksinya!

22 Februari 2026
PSMS Medan Takluk dari Persekat Tegal 0-2, Eko Purdjianto Soroti Gol Kontroversial

PSMS Medan Takluk dari Persekat Tegal 0-2, Eko Purdjianto Soroti Gol Kontroversial

22 Februari 2026
Polres Deliserdang Bekuk Dua Pria Bawa 21 Kg Sabu dari Aceh: Rencana Dikirimkan ke Jakarta

Polres Deliserdang Bekuk Dua Pria Bawa 21 Kg Sabu dari Aceh: Rencana Dikirimkan ke Jakarta

22 Februari 2026
Jalin Silaturahim, Keluarga Besar Perguruan Mamiyai Al-Ittihadiyah Buka Puasa Bersama dan Sholat Tarawih Ramadhan 1447 H

Jalin Silaturahim, Keluarga Besar Perguruan Mamiyai Al-Ittihadiyah Buka Puasa Bersama dan Sholat Tarawih Ramadhan 1447 H

21 Februari 2026
Senin, Februari 23, 2026
  • Login
HarianStar.com
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • LIFESTYLE
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • NASIONAL
    • NUSANTARA
    • SEREMONI
  • INTERNASIONAL
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • LIFESTYLE
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • NASIONAL
    • NUSANTARA
    • SEREMONI
  • INTERNASIONAL
No Result
View All Result
HarianStar.com
No Result
View All Result
Home PERISTIWA

Banjir Gelondongan Kayu dan Eksploitasi Hutan Sijantung Aceh Tamiang Tak Bisa Disangkal

Investigasi Jurnalis Harianstar, Rudi Dalimunthe bersama tim Jafar Dron

by Ratih
19 Desember 2025
in PERISTIWA, Sumut
Banjir Gelondongan Kayu dan Eksploitasi Hutan Sijantung Aceh Tamiang Tak Bisa Disangkal

Desa yang hilang di Aceh Tamiang akibat ditimbun kayu gelondongan saat bencana banjir bandang beberapa waktu lalu. [Dok Harianstar]

FacebookWhatsappTelegram

MENGENANG akhir November 2025, tanah air diselimuti duka yang mendalam.

Bencana alam kembali terjadi, tak hanya merenggut ratusan nyawa manusia tapi juga harta benda.

Baca Juga

Link Video Teh Pucuk 17 Menit KKN Lombok Masih Hangat dan Diburu Warganet: Intip Aksinya!

Langkah Nyata Reformasi Birokrasi, BKKBN Sumut Sabet Predikat ZI WBK 2025

Belajar dari Pengalaman, Rico Waas Siapkan Langkah Strategis Menghadapi Bencana Banjir

Awal mula akibat hujan yang terus menerus di bulan November 2025 yang mengakibatkan banjir yang menerjang wilayah Kabupaten Aceh Tamiang dan sejumlah wilayah Aceh.

Debit hujan yang tinggi sejumlah wilayah Aceh terdampak salah satunya wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, akibat banjir di sertai lumpur dan arus deras.

Di antara air yang meluap, warga juga dikejutkan ribuan gelondongan kayu berukuran kecil maupun besar yang ikut terseret ke permukiman warga Sijantung Desa Pengindam Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang serta terdampak di seluruh Aceh Tamiang.

Fenomena ini bukan sekadar ‘Kebetulan alam’. Ia adalah sinyal keras tentang bagaimana hutan-hutan yang digunduli secara permanen tanpa ada pengawasan dari pihak -pihak terkait

Hutan si Jantung yang selama ini menjadi benteng alam kian kehilangan kemampuannya untuk menahan curah air hujan.

Bahkan banjir kali ini juga membuat gempar beberapa wilayah di tanah air, dikarenakan banjir bandang.

Untuk mengungkap fakta terjadinya akibat banjir bandang di wilayah Aceh Tamiang yang di sertai kayu -kayu tim jurnalis Harianstar.com pada Kamis (18/12/2025) turun kelokasi terdampak banjir yang di sertai gelondongan kayu berserakan.

Mengungkapkan keserakahan manusia yang terus-menerus mengeksploitasi alam yang menjadi tempat tinggal ribuan makhluk hidup dan kaya akan sumber daya alam lainnya.

Ini membuktikan banjir yang terjadi bukan murni karena peristiwa natural dari alam melainkan campur tangan dari ulah manusia itu sendiri.

Akibat ini juga banyak tambang liar dan galian-galian batu di pinggir-pingir sungai dan gunung-gunung rusak yang juga menyebabkan bukit yang berada di pinggir sungai longsor

Di beberapa titik, beberapa warga Sijantung Desa Pengidam Kecamatan Badar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang yang selamat dari musibah banjir bandang mengatakan kepada tim di lokasi.

“Ini adalah lokasi yang kini dinamakan Desa yang hilang bak di telan bumi. Desa yang hancur tertimbun kayu kecil dan kayu gelondongan,” katanya.

Dan warga Desa Sijantung Aceh Tamiang serta warga yang di wilayah Kota Aceh Tamiang, mengaku tak pernah melihat banjir sebesar ini.

Namun yang paling mencuri perhatian adalah tumpukan kayu yang datang bersama air, seolah mengungkap apa yang selama ini terjadi jauh dari pandangan masyarakat.

Rumah -rumah hancur akibat diterjang air bercampur lumpur dan kayu-kayu yang berasal dari hutan Aceh Tamiang.

Yang sebelumnya pembalakan yang tidak terkendali, perambahan kawasan hutan Aceh Tamiang, dan lemahnya pengawasan di daerah hulu.

Statement yang mengatakan bahwa gelondongan kayu yang terbawa arus banjir bandang merupakan kayu yang lapuk namun ini merupakan kalimat yang salah.

Dikarenakan tidak mungkin gelondongan kayu yang terbawa arus ke permukiman desa.

Hal kejadian ini juga serupa, yang terjadi di wilayah Sibolga dan bukan peristiwa tunggal.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sumatra berkali-kali juga mengalami banjir besar yang selalu meninggalkan pola yang sama, daerah hulu kritis, tutupan hutan menurun, dan material kayu terbawa arus.

Dari Tapanuli hingga Padang, dari Mandailing Natal sampai Aceh Singkil, banjir besar kerap membawa cerita serupa, cerita yang menunjuk pada satu akar masalah eksploitasi hutan yang melampaui daya dukungnya.

Kembali kewilayah Aceh ,dampak hujan yang terus menerus di akhir bulan Nopember 2025, penyebab hujan deras disertai terjadi banjir bandang di lokasi hutan Sijantung Desa Pengidam Kecamatan Badar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang.

Diduga inilah titik terjadinya musibah banjir bandang yang terjadi di wilayah Aceh Tamiang

Gelondongan kayu yang muncul di tengah banjir disertai campuran lumpur menjadi bukti visual yang sulit dibantah.

Gelondongan kayu yang muncul di tengah banjir disertai campuran lumpur di Aceh Tamiang menjadi bukti visual yang sulit dibantah. [Dok.Harianstar]
Ia berbicara lebih lantang daripada laporan statistik.

Ketika kayu-kayu besar itu lolos dari hulu dan masuk ke aliran sungai, publik kembali diingatkan bahwa kerusakan ekosistem tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu kembali ke masyarakat dalam bentuk bencana alam.

Fenomena ini juga memperlihatkan betapa pentingnya menelusuri ulang pola pengelolaan hutan, izin pemanfaatan kayu, hingga efektivitas pengawasan di lapangan.

Sebab banjir di wilayah Aceh Tamiang maupun di Sibolga Sumatera Utara bukan hanya soal cuaca ekstrem, ia adalah konsekuensi dari ruang hidup yang dikorbankan.

Di tengah tekanan publik serta derasnya kritik terkait kerusakan hutan Sumatra Utara dan Aceh Tamiang, pemerintah justru mengambil langkah yang jarang dilakukan selama bertahun-tahun, membuka pintu investigasi lintas lembaga.

Langkah ini menjadi sinyal penting bahwa negara tidak lagi membiarkan permainan gelap di sektor kehutanan berlangsung tanpa akuntabilitas.

Kesediaan pemerintah menelusuri asal kayu gelondongan, memeriksa zona rawan, hingga menegur dinas terkait, menunjukkan bahwa birokrasi tidak sepenuhnya lumpuh, ia masih bisa bergerak progresif ketika krisis menuntut keberanian.

Di saat banyak pihak meragukan ketegasan negara, justru pada momen bencana inilah pemerintah menunjukkan sisi terbaiknya. Kemampuan berubah saat tekanan paling besar datang.

Bencana banjir yang membawa gelondongan kayu sebenarnya membuka ruang penting bagi negara untuk memperbaiki tata kelola hulu secara lebih struktural.

Pemerintah kini memiliki momentum untuk membereskan rantai distribusi kayu ilegal, memperkuat pemantauan hutan berbasis satelit, dan merapikan ulang perizinan yang selama ini menjadi celah bagi penjarahan sumber daya alam.

Jika momentum ini benar-benar dimanfaatkan, pemerintah tidak hanya hadir sebagai penyelamat saat krisis, tetapi juga sebagai arsitek perubahan jangka panjang.

Di sinilah kualitas negara diuji: mampu menjadikan bencana sebagai titik balik kebijakan, bukan sekadar rutinitas penanganan setelah rumah-rumah terendam.

Penampakan Hutan Sijantung , Aceh Tamiang yang mulai gundul akibat keserakahan manusia. [Dok Harianstar]
Dampak akibat hutan yang gundul,. ekosistem alam menjadi hancur lebur, dampak kerugian besar yang terjadi dan hal musibah ini terdampak akibat ulah-ulah tangan manusia yang tak bertanggung jawab.

Inilah pelajaran bagi manusia, agar ekosistim alam harus benar-benar dijaga.

Akibat ulah orang-orang yang tak bertanggung jawab, banyak korban jiwa yang berjatuhan di wilayah Aceh Tamiang maupun di wilayah Sibolga Sumatera Sumatera.

Akibat ekosistem alam hutan yang rusak dan disertai hujan ekstrim, debit air naik dan arus air deras hingga terjadi banjir bandang di sertai bercampur lumpur, terjadi tanah longsor diikutsertakan terseret kayu yang berasal dari hutan Sijantung Aceh Tamiang.

Dampak musibah ini seluruh ke pemukiman Kabupaten Aceh Tamiang menjadi kerusakan yang tak terhitung.

Hal musibah ini terjadi akibat ulah manusia, orang -orang yang tak bertanggung jawab.

Pertanyaan hadir, siapa yang harus di persilahkan, pihak Daerah Aceh atau Pemerintah Pusat?

Tentu jawaban yang pasti, kesalahan ini terjadi akibat kurangnya pengawasan dari daerah setempat yang akibatnya masyarakat sekitar menjadi korban.

Banjir lumpur dan gelondongan kayu adalah jejak eksploitasi hutan yang tak bisa disangkal. (*)

Post Views: 429
Tags: Aceh TamiangBanjir bandangBencana SumutHutan GundulHutan SijantungKayu Gelondongan
ShareSendShare
Ratih

Ratih

Baca Juga

Link Video Teh Pucuk 17 Menit KKN Lombok Masih Hangat dan Diburu Warganet: Intip Aksinya!
HEADLINE

Link Video Teh Pucuk 17 Menit KKN Lombok Masih Hangat dan Diburu Warganet: Intip Aksinya!

22 Februari 2026
Langkah Nyata Reformasi Birokrasi, BKKBN Sumut Sabet Predikat ZI WBK 2025
NUSANTARA

Langkah Nyata Reformasi Birokrasi, BKKBN Sumut Sabet Predikat ZI WBK 2025

20 Februari 2026
Belajar dari Pengalaman, Rico Waas Siapkan Langkah Strategis Menghadapi Bencana Banjir
PERISTIWA

Belajar dari Pengalaman, Rico Waas Siapkan Langkah Strategis Menghadapi Bencana Banjir

20 Februari 2026
BULOG Sumut akan  Salurkan Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng Selama Ramadan 2026
NUSANTARA

BULOG Sumut akan  Salurkan Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng Selama Ramadan 2026

20 Februari 2026
Dinkes Sumut Komit Jaga Kualitas Program UHC 2026
KESEHATAN

Dinkes Sumut Komit Jaga Kualitas Program UHC 2026

19 Februari 2026
Tiga Hari Hanyut, Jasad Warga Tuntungan Ditemukan di Tani Asli
PERISTIWA

Tiga Hari Hanyut, Jasad Warga Tuntungan Ditemukan di Tani Asli

19 Februari 2026
Load More
HarianStar.com

Copyright © 2022 HARIANSTAR*

Navigate Site

  • REDAKSI
  • KONTAK
  • PEDOMAN SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • DISCLAIMER
  • TENTANG KAMI
  • INDEKS

Follow Us

No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • LIFESTYLE
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • PENDIDIKAN
  • NASIONAL
    • NUSANTARA
    • SEREMONI
  • INTERNASIONAL

Copyright © 2022 HARIANSTAR*

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In