MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Konflik antara juru parkir (jukir) resmi dan kelompok preman yang menguasai sejumlah titik strategis kembali meletup, bahkan nyaris memicu bentrok terbuka di depan Polsek Medan Timur.
Insiden kekerasan terjadi pada Senin sore (30/6/2025), tepat di kawasan Jalan Jawa, tak jauh dari RS Murni Teguh dan Polsek Medan Timur.
Korban dalam kejadian ini adalah Erwin Marpaung alias Kancil, seorang juru parkir resmi yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua IPK Ranting Gang Buntu.
Erwin mengaku dikeroyok sejumlah preman, termasuk seorang residivis bernama Bobi, yang dikenal luas di kawasan tersebut karena sepak terjangnya.
Menurut keterangan warga dan saksi mata, konflik bermula saat Erwin meminta pembagian hasil retribusi parkir sesuai aturan resmi, yakni Rp5.000 per kendaraan, lengkap dengan karcis dari Dinas Perhubungan.
Namun Bobi, yang justru menarik tarif liar hingga Rp20.000 per mobil, menolak berbagi dan bersikap agresif.
Tak hanya didorong dan dimaki, Erwin juga dipukul menggunakan sandal kayu oleh seorang perempuan bernama Nanik, yang mengaku sebagai wartawan dari media lokal.
Aksi ini sontak memicu perhatian masyarakat sekitar yang heran mengapa oknum yang berkali-kali terlibat kekerasan masih bebas berkeliaran.
Erwin pun melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Medan Timur, teregister dalam laporan polisi nomor STTLP/B/317/VI/2025.
Tak berhenti sampai di situ, sekitar pukul 17.00 WIB, kelompok yang sama kembali beraksi.
Kali ini mereka menyerang pengawas parkir di sekitar RS Murni Teguh, lokasi yang hanya sepelemparan batu dari kantor Polsek.
Dalam sehari, dua kejadian kekerasan terjadi dengan pelaku yang sama, namun hingga malam hari belum ada tindakan tegas dari aparat.
Hal ini membuat sejumlah pihak, termasuk organisasi kepemudaan, mulai buka suara.
Ketua IPK Ranting Gg. Buntu, Hendrico alias Ketua Bewok, akhirnya turun tangan.
Dalam rapat darurat yang digelar di depan RS Murni Teguh malam itu, Rico menyatakan keprihatinan atas sikap arogansi preman yang mengaku-ngaku bagian dari masyarakat setempat.
“Ini bukan soal gengsi organisasi. Tapi kalau orang seperti Bobi bisa seenaknya bertindak, mengaku wartawan, memukul jukir resmi, dan tidak ditindak… lalu apa fungsi negara. Jangan nodai nama pemuda. Kita ini mitra hukum, bukan musuhnya,” tegas Rico.
Ia pun menyerukan kepada anggotanya untuk menahan diri dan tidak terpancing emosi. Rico meminta semua pihak menjaga situasi tetap kondusif.
Menurut anggota Srikandi IPK, Syahfitri Ginting, Bobi sudah berulang kali membuat onar.
Tahun lalu, ia bahkan menikam seorang jukir di Jalan Veteran saat perayaan HUT Bhayangkara. Korban sempat dirawat di RS Murni Teguh dan Fitri sendiri yang menanggung biaya pengobatannya.
“Katanya berkas kasus P19 karena visum gak lengkap. Tapi luka dan bukti medis ada. Aneh, Bobi bisa bebas begitu saja. Bahkan katanya dibantu Nanik yang mengaku wartawan. Kalau seperti ini terus, masyarakat bisa hilang kepercayaan pada hukum,” ungkap Fitri.
Data yang dihimpun menyebutkan bahwa Bobi dan kelompoknya sudah tiga kali dimediasi oleh Polsek Medan Timur, namun aktivitas pungli dan kekerasan terus berulang. Warga pun semakin resah dan mulai mempertanyakan sikap aparat.
Tekanan dari masyarakat dan organisasi pemuda akhirnya membuat pihak berwenang bereaksi.
Dinas Perhubungan Kota Medan, perusahaan pengelola parkir, dan Polsek Medan Timur dikabarkan akan melakukan penertiban besar-besaran pada Rabu, (2/7/2025).
Fokus penertiban akan menyasar titik-titik rawan seperti Jalan Jawa, Jalan Irian Barat, dan Jalan Veteran, lokasi-lokasi yang selama ini dikuasai kelompok preman dan sering jadi sumber konflik.
Warga berharap, aksi ini bukan sekadar simbolis menjelang HUT Bhayangkara, tapi menjadi momen serius untuk memberantas pungli, premanisme, dan dugaan perlindungan terhadap pelaku kejahatan oleh oknum tertentu.
“Jangan sampai masyarakat yang justru jadi korban malah kehilangan kepercayaan. Hukum harus berpihak pada yang benar,” ujar seorang tokoh masyarakat yang enggan disebut namanya.(RED)