MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Sat Reskrim Polrestabes Medan menangkap lima orang pria atas dugaan penyalahgunaan niaga Bahan Bakar Minya (BBM) bersubsidi. Satu diantaranya merupakan seorang pembeli BBM eceran yang hingga kini masih didalami petugas terkait konstruksi hukumnya kepada ahli.
Sementara empat lainnya, M, 47 tahun, AH, 18 tahun, MHN, 56 tahun dan SY 43 tahun.
Dijelaskan Kasat Reskrim, Akbp Bayu Putro Wijayanto, penangkapan itu menindak lanjutin keluhan masyarakat yang mengeluh akan kelangkaan BBM pasca bencana banjir melanda kota Medan.
Selain itu, masyarakat juga mengeluh beberapa diantara penjual BBM eceran membandrol harga per liter tidak semestinya.
“Ini kita ada perintah pimpinan, Cipkon Khusus terkait SPBU pasca bencana. Para penjual bensin eceran ini menjual Rp 12 sampai Rp 15 ribu.per liter,” ucapnya, Senin (8/12/2025).
Dijelaskannya, M dan SY merupakan pembeli BBM bersubsidi menggunakan mobil dan betor yang tangkinya telah dimodivikasi. Sementara AH dan MHN merupakan operator SPBU yang menjual BBM menggunakan barkode milik orang lain yang telah disimpan di EDC (Electronik Data Capture).
“Jadi modusnya ada dua, si M pakai mobil dan si SY menggunakan betor. Karena si penjual BBM eceran ini tidak punya barkode, si operator menggunakan barkode orang lain yang sebelumnya sudah difoto dan disimpan. Seharusnya si penjual kan harus punya izin dari pertamina,” tuturnya.
Dalam setiap kali pembelian di SPBU, M dan SY dapat membeli BBM 150 hingga 200 liter. Sementara operator, mendapat keuntungan Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu setiap derigennya.
“Sehari bisa 150 sampai 200 liter BBM, tergantung dia bisa mengisi full tangkinya. Sementara maksimal mobil itu hanya 60 liter. Operator dapat keuntungan Rp 5 sampai Rp 10 ribu per drigen,” katanya.
Bayu menegaskan, penangkapan ini merupakan langkah awal pihaknya menindak penjual BBM eceran dan operator nakal di SPBU. Kedepan pihaknya akan terus melakukan penyelidikan terkait hal tersebut.
“Walaupun tidak kondisi bencana seperti ini, kita akan tetap tindak lanjuti ke depan,” lanjutnya.
Terhadap keempat pria yang ditangkap, polisi menerapkan UU tentang minyak dan gas dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.
“Terkait para pelaku penyalahgunaan BBM bersubsidi ini kita kenakan pasal 55 UU No 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi Jo Ciptaker dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara dan denda Rp 60 Milyard,” ujarnya. (RED)



























