MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Hujan meteor Geminid, fenomena langit paling terang dan paling stabil sepanjang tahun, akan melintasi langit Bumi pada Desember 2025.
Pertunjukan alam yang memukau ini menjadi momen indah yang tak boleh terlewatkan begitu saja.
Fenomena ini akan selalu ditunggu para pengamat langit, baik dari kalangan astronom amatir maupun masyarakat umum.
Hujan meteor Geminid dikenal menghasilkan kilatan cahaya yang intens, bergerak cepat, dan sering kali tampak berwarna.
Inilah yang membuatnya kerap dianggap sebagai hujan meteor terbaik dalam setahun.
Pada 2025, masyarakat Indonesia memiliki kesempatan luas untuk menyaksikan puncak aktivitasnya.
Periode dan Jadwal Puncak Hujan Meteor Geminid 2025:
Geminid tercatat aktif setiap awal hingga pertengahan Desember.
Berdasarkan data astronomi internasional, aktivitasnya pada tahun 2025 berlangsung mulai 4 hingga 17 Desember.
Adapun puncak terbaik untuk mengamati meteor terjadi pada malam 13 hingga dini hari 14 Desember 2025.
Pada fase puncak, jumlah meteor yang dapat terlihat dalam kondisi ideal bisa mencapai 100 meteor per jam.
Intensitas ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pengamat di daerah yang minim polusi cahaya.
Berbeda dengan mayoritas hujan meteor lain yang berasal dari sisa debu komet, Geminid berasal dari objek unik bernama asteroid 3200 Phaethon.
Asteroid ini sering dijuluki “komet batu” karena memiliki sifat mirip komet, meski secara struktur tergolong asteroid.
Saat Bumi melintasi sisa partikel dari 3200 Phaethon, debu tersebut masuk ke atmosfer dan terbakar, menciptakan kilatan cahaya yang kita kenal sebagai meteor.
Meteor-meteor ini tampak berasal dari rasi bintang Gemini, yang menjadi dasar penamaan Geminid.
Agar fenomena ini dapat dinikmati secara maksimal, beberapa hal dapat dipersiapkan:
1. Waktu terbaik pengamatan
Waktu yang paling ideal adalah setelah tengah malam hingga menjelang subuh. Pada jam-jam tersebut, posisi rasi Gemini semakin tinggi di langit sehingga meteor terlihat lebih banyak.
2. Lokasi minim cahaya
Pilih area terbuka dan jauh dari lampu kota. Semakin gelap lingkungan sekitar, semakin jelas meteor terlihat.
3. Tidak membutuhkan alat khusus
Hujan meteor ini dapat disaksikan dengan mata telanjang. Teleskop justru membatasi sudut pandang, sehingga tidak disarankan.
4. Adaptasi mata terhadap kegelapan
Biarkan mata menyesuaikan diri dengan kegelapan selama 20–30 menit. Ini membantu meningkatkan sensitivitas penglihatan terhadap cahaya meteor yang cepat melintas.
Selain intensitas yang tinggi, Geminid dikenal memiliki meteor yang lebih terang dan tebal dibanding fenomena serupa.
Warna-warna terang seperti putih, kuning, hingga kehijauan sering muncul pada saat puncak. Stabilitas intensitas tahun ke tahun juga menjadikannya favorit penggemar astronomi.
Fenomena ini tidak hanya indah, tetapi juga menjadi momen edukatif, terutama bagi penggiat sains yang ingin mengenalkan astronomi kepada masyarakat luas.



























