TEL AVIV (HARIANSTAR.COM) – Perwakilan Tinggi Board of Peace untuk Gaza, Nickolay Mladenov, membela pelucutan senjata Hamas yang disusun lembaganya, tak lama setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak rencana tersebut.
Dalam wawancara dengan Channel 12 Israel yang tayang Senin, 10 Agustus 2026, Mladenov menyebut implementasi penuh rencana itu sebagai satu-satunya jaminan agar tragedi seperti serangan 7 Oktober 2023 tidak terulang.
“Apa yang terjadi pada 7 Oktober tidak akan pernah dibiarkan terjadi lagi, selama kita memiliki implementasi penuh dari rencana Board of Peace… Opsi yang kami tawarkan hari ini adalah satu-satunya jalan maju yang menjamin tragedi ini tidak akan terjadi lagi,” kata Mladenov, sebagaimana dilaporkan Times of Israel dilansir dari Gaza Media, Selasa (11/8/2026).
Mladenov menegaskan bahwa proses pelucutan senjata akan didasarkan pada langkah-langkah yang dapat diverifikasi di lapangan, bukan semata kepercayaan terhadap Hamas. Ia menyatakan tidak ada pihak, termasuk Israel, yang diminta melakukan apa pun sebelum ada langkah terverifikasi di lapangan.
“Jika ada pelucutan senjata yang terverifikasi, di mana senjata diambil dari faksi-faksi, disimpan, dan pada akhirnya dibuat tidak dapat digunakan, barulah Israel menarik diri dari Gaza,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kerangka kerja tersebut tidak akan membatasi opsi Israel untuk merespons ancaman yang bersifat mendesak terhadap pasukannya. Terkait jaringan terowongan Hamas di Gaza, Mladenov mengakui penghancurannya biasanya membutuhkan waktu lebih dari satu dekade, namun kerja sama melalui Board of Peace disebutnya dapat mempercepat proses tersebut.
Wawancara Mladenov tersebut tayang beberapa jam setelah Netanyahu menyatakan penolakan resmi terhadap rencana 15 poin yang diajukan Board of Peace, dalam rapat kabinet Minggu, 9 Agustus 2026. “Israel menolak dokumen 15 poin,” kata Netanyahu saat itu, sembari menegaskan militer Israel tidak akan menarik diri dari Gaza sampai Hamas benar-benar dilucuti senjatanya.
Netanyahu, yang menghadapi tekanan dari mitra koalisi sayap kanan yang mendesak pemungutan suara ulang di kabinet untuk membatalkan rencana damai tersebut, mengatakan Israel masih dalam pembicaraan dengan Washington soal sejumlah poin dalam rencana itu. “Mereka punya sejumlah gagasan; sebagian bisa kami terima, sebagian tidak, dan kami tahu cara mempertahankan sikap kami dalam hal ini,” katanya.
Rencana 15 poin dari Board of Peace, badan yang dibentuk Presiden AS Donald Trump melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, mengatur strategi bertahap untuk mengakhiri konflik di Gaza, melucuti senjata faksi-faksi bersenjata, menarik pasukan Israel, dan mengalihkan pemerintahan Jalur Gaza kepada badan teknokratis Palestina bernama Komite Nasional untuk Administrasi Gaza.
Ketegangan antara Israel dan Board of Peace ini terjadi di tengah masih berlangsungnya gencatan senjata yang diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, dengan total korban tewas Palestina di Gaza mencapai sekitar 72.797 jiwa menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, serta 1,9 juta dari 2,4 juta warga Gaza yang masih dalam kondisi terusir dari tempat tinggal mereka.



















