MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Arkeolog Israel mengungkap temuan masjid kuno yang dibangun di era setelah Nabi Muhammad SAW.
Salah satu masjid tertua yang tercatat, telah ditemukan arkeolog pada 2021 lalu.
Bagi arkeolog, masjid-masjid tersebut menjadi saksi sejarah yang akan terus ditelusuri situsnya untuk digali.
Para arkeolog di Universitas Ibrani, Israel, berhasil menemukan sebuah fondasi dari masjid yang dibangun pada paruh kedua abad ke-7 atau sekitar akhir 600-an Masehi.
Nabi Muhammad SAW wafat pada 632 Masehi. Ini artinya, masjid dibangun hanya beberapa dekade setelah era Nabi Muhammad SAW.
Usia bangunan masjid ini diketahui dari fondasi dan sisa-sisa artefak seperti koin dan pecahan tembikar.
“Yang tersisa dari masjid berusia berabad-abad ini hanyalah fondasinya dan artefak yang ditemukan di timbunan di bawah struktur tersebut, seperti koin dan pecahan tembikar yang berasal dari abad ketujuh, yang membantu menentukan usia bangunan tersebut,” ungkap pemimpin penggalian Katia Cytryn-Silverman, seorang spesialis arkeologi Islam di Universitas Ibrani di Israel, dikutip dari Live Science.
Menurut arkeolog, situs yang ditemukan sejak 1950-an tersebut, awalnya dikira pasar pada masa Bizantium. Namun, penggalian ulang dilakukan oleh Cytryn-Silverman dan timnya.
Hasilnya, mereka menyimpulkan bahwa situs lebih mirip dengan Masjid Agung Damaskus, yang dibangun pada abad ke-8 awal dan masih berdiri. Fondasinya yang masih bisa diidentifikasi, disebut sebagai bagian awal masjid.
“(Situs itu) sebenarnya adalah fondasi untuk barisan kolom pertama dari tahap awal masjid,” ungkapnya.
Setelah penggalian berjalan bertahun-tahun, arkeolog mulai menemukan unsur lain. Seperti genteng yang menjadi bagian pembangunan masjid, usai runtuh selama gempa bumi tahun 1068.
Para arkeolog juga menemukan rantai perunggu panjang yang dulunya menahan lampu masjid dari kaca.
“Lampu-lampu itu, tentu saja, hancur akibat runtuhnya bangunan, tetapi banyak sisa pegangannya memungkinkan kita untuk memahami jenisnya,” ujar Cytryn-Silverman.
Menurut arkeolog, pada 720-an dan 730-an, masjid tersebut berubah menjadi bangunan yang lebih besar dengan halaman dan setidaknya satu tangki air bawah tanah (tangki untuk menyimpan air). Kemudian pada 800-an, sebuah menara (azan) untuk menyeru umat muslim mendirikan salat, kemungkinan dibangun.
Masjid tersebut tetap digunakan hingga akhir tahun 900-an, menurut sebuah batu nisan yang ditemukan di dekat apse. Kemudian, gempa bumi menghancurkannya pada 1068 dan Tentara Salib tiba sekitar tahun 1100.
Penemuan ini, kata arkeolog, menegaskan adanya toleransi beragama yang kuat. Diketahui, umat muslim yang beribadah di masjid tersebut, bertetangga dengan orang Yahudi dan Kristen, yang juga memiliki bangunan keagamaan di lingkungan itu.
“Termasuk sebuah gereja monumental di dekatnya yang tampaknya merupakan gereja terbesar di Galilea dan Sinagoge Hammat Tiberias yang megah di sebelah selatan,” tutur Cytryn-Silverman. (*)



























