MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Kinerja pasar keuangan tanah air kompak ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan ini. IHSG ditutup menguat 0.8% di level 6.236,126, dan mata uang Rupiah berhasil menguat di bawah level psikologis 18 ribu per US Dolar, atau tepatnya di level 17.990 di sesi perdagangan sore.
Sementara gambaran yang berbeda justru ditunjukan oleh harga minyak mentah dunia, yang merangkak naik ke level $87 per barel pada perdagangan sore.
Hal tersebut dikatan oleh Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, jumat (31/7) sore.
Ditambahkan Gunawan Bursa saham di Asia menguat meskipun kinerja sektor manufaktur China justru alami kontraksi. Ditambah dengan kinerja US Dolar yang memang mengalami tekanan sejalan dengan melemahnya kinerja USD Index. Akan tetapi situasinya justru menunjukan hal yang berbeda di sesi perdagangan kedua.
Meskipun IHSG dan ruiah menguat, namun tensi geopolitik terlihat memanas sejalan dengan sejumlah kabar buruk di selat hormus, ujarnya.
Kekuatiran pelaku pasar mencuat setelah Iran mengancam akan menutup selat hormus bagi kapal niaga yang mendukung AS. Seiring dengan hal tersebut, Iran juga mengintensifkan serangan terhadap aset-aset AS yang ada di timur tengah seperti kuwait dan bahrain. Setelah sebelumnya mesir juga melaporkan adanya serangan terhadap kapal di wilayahnya, katanya.
Dijelaskan Dari tensi geopolitik yang memburuk tersebut, harga minyak meresopon dengan kenaikan. Kinerja sektor keuangan di Asia terpantau masih cukup terkendali. Walau demikian eskalasi perang bisa saja memburuk saat sesi perdagangan waktu AS. Muara dari tekanan politik kawasan saat ini berpeluang memicu rtekanan pada pasar keuangan di awal pekan depan, paparnya.
Sehingga penguatan IHSG dan Rupiah di akhir pekan berpeluang berbalik arah nantinya. Dan emas sudah merespon lebih dini kekuatiran pasar saat ini. Harga emas ditransaksikan melemah ke level $4.055 per ons troy, atau sekitar 2.35 juta per gram, pungkas Gunawan. (Abi)




















