MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Benjamin Benjamin, Data manufaktur China merealisasikan angka yang membaik, meski demikian masih berada di zona kontraksi. Data Manufacturing PMI China berada di angka 49.8 di bulan agustus atau membaik dari posisi sebulan sebelumnya di level 49.0.
“Sejalan dengan rilis data manufaktur China, bursa saham di Asia pada perdagangan pagi ini mayoritas ditransaksikan melemah. IHSG juga terseret arus pelemahan dengan dibuka melemah di level 6.511,” ungkapnya di Medan, senin (31/8).
Disisi yang berbeda, kinerja mat uang rupiah pada sesi perdagangan pagi ini juga alami pelemahan. Mata uang Rupiah ditransaksikan di kisaran level 17.750 per US Dolar. Pelemahan mata uang Rupiah terjadi disaat ada banyak sentimen yang menopang penguatan US Dolar. Salah satunya ditopang oleh kenaikan kinerja USD Index ke level 99.6,ucapnya.
Ditambah lagi imbal hasil US Treasury 10 tahun bergerak naik di kisaran level 4.7%, lebih tinggi dibandingkan dengan kinerjanya pada akhir pekan sebelumnya. Selain sejumlah faktor keuangan, awal pekan ini pelaku pasar juga tengah dihantui dengan memburuknya tensi geopolitik yang ada di kawasan timur tengah, katanya.
Disebutkan Iran, China dan rusia dijadwalkan akan melakukan pertemuan dalam KTT Shanghai Cooporation Organization (SCO). Pertemuan tersebut bisa saja menghasilkan kebijakan untuk melawan tekanan AS. Terlebih setelah China menentang keras sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS karena melakukan kerjasama ekonomi dengan Iran, tambahnya.
Gunawan menambahkan, Harga minyak mentah dunia merespon dengan kenaikan harga yang menyentuh $90 per barel. Sejauh ini kenaikan harga minyak mentah juga telah menekan harga emas ke kisaran level $4.423 per ons troy, atau sekitar 2.53 juta per gram. Memanasnya hubungan antara AS dengan Iran kembali menyulut kekuatiran akan kemungkinan memburuknya kondisi ekonomi kedepan, pungkas Gunawan. (Abi)




















