MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Pengamat Ekonomi SumutPengamat Ekonomi Sumut mengatakan, kinerja mata uang Rupiah pada hari ini (16/04) mengalami pelemahan yang cukup tajam hingga menyentuh 16.200 per US Dolar.
Dan belum bisa dipastikan kapan tekanan ini akan berakhir, karena sangat bergantung dengan sikap masing-masing Negara yang terlibat perang. Pelemahan mata uang Rupiah memang bisa menjadi kabar buruk bagi sejumlah komoditas pangan di tanah air.
“Bahkan hampir semua kebutuhan pangan strategis tidak akan bisa melepaskan diri dari pelemahan Rupiah. Karena mulai dari bahan baku penolong, bahan baku input produksi hingga barang siap konsumsi didatangkan dengan cara diimpor, ” Katanya kepada HarianStar di Medan, Selasa (16/4/2024) pagi.
Ditambahkannya, untuk komoditas pangan hotrikultura (cabai dan sayur-sayuran) membutuhkan pupuk, dimana sebagian bahan baku pupuk di beli dari Negara lain.
Untuk sumber protein seperti daging ayam dan telur ayam juga membutuhkan bahan baku olahan seperti pakan yang sebagian juga didatangkan dari Negara lain.
Bahan baku tersebut seperti beras Bulog, daging sapi maupun sapi indukan yang memang didatangkan dalam bentuk barang jadi siap konsumsi dari Negara lain. Termasuk juga gula pasir impor yang hanya sedikit butuh reaksi kimia dan siap dikonsumsi, jelasnya.
“Dan bahan bakar minyak (BBM) sebagian juga didatangkan dengan cara diimpor. Pelemahan rupiah akan membuat harga barang-barang impor (konversi) menjadi lebih mahal, meskipun harga barang dari Negara asal bisa saja tidak mengalami perubahan,”ujar Gunawan.
Sehingga, lanjutnya wajar jika muncul kekuatiran bahwa pelemahan Rupiah bisa membuat pemerintah merevisi kebijakan subsidi, atau bisa memicu kenaikan harga jual barang yang lebih tinggi.Yang penting pemerintah bisa memitigasinya dengan serangkaian kebijakan untuk mengurangi dampak buruk dari pelemahan rupiah itu sendiri.
“Pelemahan rupiah saat ini merupakan buah dari ketidakstabilan geopolitik global yang terus meningkat, ditengah ketidakstabilan ekonomi global yang turut menyertainya. Pemerintah sebaiknya lebih realistis melihat keadaan serta menempatkan kemungkinan resiko terburuk yang akan terjadi. Seperti, acuan nilai tukar Rupiah dalam APBN disesuaikan dengan mempertimbangkan resiko kebijakan suku bunga tinggi The FED dan perang yang berkecamuk dan meluas,”papar Gunawan.
Gunawan menyebutkan tren neraca dagang yang melemah seiring dengan memburuknya kinerja ekonomi Negara tujuan ekspor.
Jika pelemahan rupiah dan ancaman kenaikan harga minyak mentah dunia direspon Presiden Jokowi untuk merevisi kebijakan subsidinya. Maka aka nada kemungkinan terjadinya gejolak harga pangan serta kenaikan laju tekanan inflasi. Namun dari sekian banyak resiko yang timbul akibat tensi geopolitik yang menekan rupiah.
“Ada satu sektor lain selain urusan ketahanan pangan yang perlu dijaga baik baik. Sektor tersebut adalah perbankan dan keuangan. Pemerintah harus curahkan perhatian yang besar untuk menjaga ketahanan pangan dan perbankan ditengah distuasi yang serba tidak pasti seperti saat ini, “pungkas Gunawan.(abi)


























