GAZA CITY (HARIANSTAR.COM) – Jumlah korban tewas akibat agresi militer Israel di Gaza terus bertambah. Sampai saat ini korban meninggal sejak Oktober 2023 dilaporkan mencapai 72.783 orang per Sabtu (23/5/2026).
Selain korban yang tewas sejak pecahnya perang, sebanyak 172.779 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Mayoritas korban merupakan perempuan dan anak-anak.
Informasi tersebut disampaikan otoritas kesehatan di jalur gaza yang dikutip Senin (25/5/2026) melalui gaza media.
Angka tersebut mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir setelah tim penyelamat berhasil mengakses sejumlah wilayah yang sebelumnya terisolasi akibat operasi militer. Dalam sepekan terakhir saja, sedikitnya 776 jenazah baru ditemukan dari balik puing-puing bangunan di berbagai titik kantong Gaza, mulai dari Gaza City di utara hingga Rafah di selatan.
Pihak medis menegaskan angka yang dipublikasikan masih jauh di bawah jumlah korban yang sesungguhnya. Sumber dari Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan ribuan korban diperkirakan masih terjebak di bawah timbunan bangunan yang hancur. Kendala akses bagi ambulans dan tim penyelamat menyebabkan proses evakuasi dan identifikasi berjalan sangat lambat.
Meski rencana perdamaian 20 poin yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memasuki fase implementasi sejak Oktober 2025, sejumlah insiden kekerasan masih terus dilaporkan terjadi. Israel beberapa waktu lalu mengeklaim telah menewaskan Ezzedin al-Haddad, salah seorang komandan militer Hamas, dalam sebuah serangan udara di Kota Gaza yang berlangsung di tengah masa gencatan senjata.
Sementara itu, pasukan Israel bersama pemukim ilegal juga dilaporkan kerap melakukan operasi penyerangan ke sejumlah desa dan kota di Tepi Barat. Dalam serangan terbaru ke Jalur Gaza, tujuh warga Palestina dilaporkan tewas.
Lonjakan jumlah korban tidak hanya disebabkan oleh serangan militer langsung, tetapi juga oleh memburuknya krisis kemanusiaan. Jalur Gaza disebut tengah memasuki fase paling berbahaya dari kelaparan massal yang terorganisasi, menurut peringatan Kantor Media Pemerintah Gaza pekan lalu.
Pada periode 1 hingga 18 Mei 2026, sekitar 10.800 truk bantuan dijadwalkan masuk ke Gaza. Namun hanya 2.719 truk yang berhasil mencapai tujuan—setara dengan seperempat kebutuhan minimum. Lebih dari 250.000 keluarga kini sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan, sementara lebih dari 1,5 juta warga menghadapi ancaman kerawanan pangan yang terus memburuk.



























