WASHINGTON (HARIANSTAR.COM) – Amerika Serikat melancarkan serangan besar dan menghancurkan fasilitas nuklir Iran.
Donald Trump, pada Jumat mengklaim bahwa perubahan rezim di Teheran “pada dasarnya telah terjadi”.
Dalam pernyataannya di sebuah forum investasi di Miami, Florida, dikutip dari gaza media, Sabtu (28/3/2026), Trump menggambarkan Iran sebagai negara yang sebelumnya bersikap agresif, namun kini menurutnya berada dalam posisi terdesak. Ia juga menyebut kawasan Timur Tengah akan segera terbebas dari “ancaman dan tekanan” Iran.
Trump turut menguraikan sejumlah klaim terkait operasi militer AS. Ia menyebut pasukan Amerika telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran, serta melemahkan kekuatan udara dan sistem pertahanan negara tersebut. Ia juga mengklaim pemimpin tertinggi Iran tewas, sementara putranya mengalami luka berat.
Lebih lanjut, Trump mengatakan bahwa ribuan target telah diserang, dan masih terdapat ribuan target lain yang dapat menjadi sasaran berikutnya. Ia menegaskan akan menentukan langkah lanjutan pada waktu yang dianggap tepat.
Trump juga menyinggung serangan rudal Iran ke sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Ia menekankan pentingnya pembukaan Selat Hormuz.
Terkait dukungan domestik, Trump membantah adanya penurunan dukungan dari basis politiknya akibat operasi militer tersebut. Ia juga menyebut pasar keuangan tetap stabil di tengah konflik.
Dalam kesempatan yang sama, Trump mengisyaratkan kemungkinan langkah militer terhadap Kuba. Ia mengatakan bahwa meskipun militernya dibangun untuk mencegah konflik, dalam situasi tertentu kekuatan tersebut perlu digunakan. “Kuba bisa menjadi berikutnya,” ujarnya.
Pemerintah Kuba, melalui Presiden Miguel Díaz-Canel, mengakui tengah melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat guna menghindari potensi konflik. Ekonomi Kuba sendiri dilaporkan terdampak gangguan pasokan minyak.
Trump juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap negara-negara anggota NATO yang dinilainya tidak memberikan dukungan dalam konflik tersebut. Ia menyatakan bahwa AS dapat mempertimbangkan kembali komitmennya terhadap aliansi tersebut di masa depan.
Sebelumnya, Trump mengumumkan penangguhan sementara operasi militer terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari. Ia menyebut langkah itu diambil atas permintaan pemerintah Iran, sembari menegaskan bahwa proses negosiasi masih berlangsung.
Di sisi lain, pemerintah AS menyatakan harapan untuk menggelar perundingan dengan Iran dalam waktu dekat guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir satu bulan.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, menyatakan optimisme terkait kemungkinan pertemuan dalam pekan ini. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut AS menargetkan pencapaian tujuan militernya dalam dua pekan ke depan.
Iran, melalui sejumlah pejabatnya, menegaskan akan memberikan respons keras atas serangan terhadap fasilitas nuklirnya. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan upaya diplomasi yang sedang berlangsung.


























