JAKARTA (HARIANSTAR.COM) – Tunjangan Hari Raya (THR) selalu menjadi momen yang dinanti setiap tahun. Dana tambahan ini umumnya digunakan untuk kebutuhan konsumsi seperti belanja, mudik, hingga berbagi dengan keluarga. Namun, di balik euforia tersebut, terdapat peluang strategis untuk membangun masa depan keuangan dengan cara yang lebih produktif, yakni menyisihkan sebagian THR untuk investasi.
Salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan adalah produk pasar modal syariah. Selain berorientasi pada keuntungan, investasi syariah juga mengedepankan prinsip-prinsip Islam seperti larangan riba, gharar (ketidakjelasan), dan maisir (spekulasi berlebihan), sehingga memberikan rasa aman dan ketenangan bagi investor.
Kepala Divisi Pasar Modal Syariah PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Irwan Abdalloh, dalam berbagai kegiatan edukasi menyampaikan bahwa momentum penerimaan THR sangat tepat untuk memulai kebiasaan investasi. Menurutnya, THR tidak semestinya hanya menjadi dana konsumsi, melainkan dapat menjadi titik awal membangun aset jangka panjang.
“Dengan menyisihkan sebagian THR ke instrumen investasi syariah, masyarakat belajar menunda kesenangan sesaat demi keberlanjutan kesejahteraan di masa depan,” ujarnya.
Di pasar modal syariah Indonesia tersedia beragam pilihan produk. Untuk saham syariah, investor dapat merujuk pada Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan secara berkala oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BEI juga menyediakan sejumlah indeks saham syariah sebagai acuan, seperti Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) yang memuat seluruh saham syariah tercatat, serta Jakarta Islamic Index (JII) yang berisi 30 saham syariah paling likuid. Selain itu, tersedia pula JII70, IDX Sharia Growth, IDX-MES BUMN17, hingga S&P/IDX Indonesia Shariah High Dividend Index yang menawarkan strategi investasi beragam.
Selain saham, terdapat pula sukuk yang kerap disebut sebagai obligasi syariah. Berbeda dengan obligasi konvensional, sukuk merupakan bukti kepemilikan atas aset atau proyek yang sesuai prinsip syariah. Instrumen ini diterbitkan pemerintah maupun korporasi dan umumnya menawarkan imbal hasil yang relatif stabil.
Bagi pemula, reksa dana syariah menjadi alternatif yang lebih praktis. Dana investor akan dikelola oleh manajer investasi profesional ke dalam portofolio efek syariah yang terdiversifikasi. Dengan modal relatif terjangkau, masyarakat sudah dapat memulai investasi tanpa harus melakukan analisis pasar secara mendalam.
Irwan menekankan pentingnya memulai dari nominal kecil dan dilakukan secara rutin. Ia juga mengingatkan bahwa investasi syariah bukan aktivitas spekulatif, melainkan berfokus pada kepemilikan aset produktif dan pertumbuhan nilai jangka panjang berdasarkan fundamental perusahaan.
Lebih dari sekadar potensi keuntungan, kebiasaan menyisihkan THR untuk investasi juga melatih disiplin keuangan. Jika dilakukan secara konsisten setiap tahun selama 10 hingga 20 tahun, akumulasi dana yang diinvestasikan berpotensi berkembang signifikan dibandingkan habis untuk konsumsi sesaat.
Edukasi pasar modal syariah kini semakin mudah diakses melalui berbagai kanal, termasuk Sekolah Pasar Modal Syariah serta pembukaan rekening efek secara daring. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui kanal resmi BEI Syariah dan media sosial @idxislamic.
Dengan niat, disiplin, dan pemahaman yang tepat, menyisihkan THR untuk investasi syariah menjadi langkah nyata memadukan tanggung jawab finansial dan nilai spiritual dalam membangun kesejahteraan berkelanjutan.



























