GAZA (HARIANSTAR.COM) – Israel membuka kembali sebagian perbatasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza yang terkepung dengan Mesir, pada Minggu (1/2/2026).
Hal itu mengakhiri lebih dari satu setengah tahun penutupan hampir total.
Namun langkah ini bersifat terbatas dan lebih simbolis, tanpa memungkinkan pengiriman barang maupun pergerakan pengunjung atau pasien secara nyata, meski krisis kemanusiaan dan kebutuhan medis mendesak terus meningkat di Gaza.
Pembukaan kembali perbatasan terjadi setelah berbulan-bulan seruan dari organisasi kemanusiaan dan bertepatan dengan implementasi fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata, menurut sumber Palestina dan Israel.
Meski demikian, para pejabat dan analis menyebut langkah ini masih jauh dari yang dibutuhkan untuk mengatasi bencana kemanusiaan yang semakin parah di Gaza.
Dikutip dari gaza media, Senin (2/2/2026) menyebutkan, Shadi Othman, petugas media Kantor Uni Eropa di Yerusalem, mengatakan kepada TNA bahwa pembukaan ini merupakan uji coba untuk menilai kesiapan operasional di perbatasan.
Ia menambahkan, proses ini dilakukan dalam koordinasi dengan Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa (EUBAM) dan pihak berwenang Mesir, dan difokuskan pada pengaturan teknis serta administratif untuk mempersiapkan pergerakan penduduk Palestina di masa depan.
“Perbatasan mungkin akan dibuka secara resmi besok,” kata Othman, seraya menegaskan bahwa kehadiran Uni Eropa di Rafah terbatas pada pemantauan kepatuhan terhadap standar dan prosedur yang disepakati, tanpa ikut mengelola pembukaan atau penutupan.
Pihak Israel menegaskan bahwa pembukaan kembali bersifat terbatas. Koordinator Aktivitas Pemerintah Israel di Wilayah (COGAT) menyebut perbatasan dibuka “sesuai kesepakatan gencatan senjata dan arahan pimpinan politik”, terbatas pada pergerakan orang dalam lingkup sempit.
Pernyataan resmi menyebut langkah ini sebagai fase eksperimen awal, dilakukan bersama EUBAM dan pihak terkait lainnya, sebagai persiapan menuju kemungkinan operasi penuh di kemudian hari.
Namun sumber Palestina menegaskan pembukaan ini masih bersifat eksperimen dan belum berarti kelonggaran signifikan bagi rakyat Gaza. Hingga akhir hari Minggu, meski ada delegasi gabungan Palestina-Mesir-Uni Eropa di perbatasan, belum tercatat adanya pergerakan pengunjung atau pasien.
Bagi para korban luka dan pasien kronis di Gaza, perbedaan antara pembukaan simbolis dan perbatasan yang berfungsi penuh bisa menjadi urusan hidup dan mati.
Puluhan ribu warga Palestina masih terjebak di Jalur Gaza, tidak bisa mengakses perawatan medis di luar, sementara sistem kesehatan Gaza terus ambruk akibat lebih dari satu tahun perang, kekurangan obat dan bahan bakar, serta penutupan banyak rumah sakit.
“Saya sudah menunggu berbulan-bulan, dan setiap hari kondisi saya semakin memburuk,” kata Mohammed Khalil Abu Awda, 27, dari lingkungan Shuja’iyya, Gaza City. Abu Awda mengalami kelumpuhan parsial setelah terkena pecahan peluru dalam serangan Israel pada November lalu.
“Jika saya tidak bisa pergi segera, saya khawatir akan lumpuh permanen,” tambahnya.
Seorang sumber di Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan, hingga saat ini belum ada jadwal resmi terkait keberangkatan pasien. Lebih dari 25.000 korban luka dan ribuan orang dengan penyakit serius membutuhkan perawatan mendesak di luar Jalur Gaza. Sumber itu memperingatkan, penutupan terus-menerus atau pembukaan terbatas Rafah bisa menimbulkan kematian yang seharusnya bisa dicegah.
Secara politik, analis menilai pembukaan terbatas ini mencerminkan rapuhnya pemahaman yang ada terkait gencatan senjata.
“Rafah masih diperlakukan sebagai alat politik dan keamanan, bukan sebagai kebutuhan kemanusiaan,” kata Mustafa Ibrahim, analis politik Palestina di Gaza. Ia menekankan, hanya operasi penuh dan reguler, didukung jaminan internasional yang jelas, yang dapat mulai mengatasi bencana kemanusiaan di Gaza.
Rafah, satu-satunya perbatasan antara Gaza dan dunia luar yang tidak sepenuhnya dikontrol Israel, lama menjadi simbol isolasi sekaligus harapan rapuh bagi warga Jalur Gaza.
Bagi banyak warga Gaza, pembukaan terbatas pada Minggu kembali menimbulkan kekhawatiran bahwa harapan mereka masih bisa tertunda.



























