![]() |
| Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, dr.Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. |
JAKARTA (HARIANSTAR.COM) – Saat ini telah viral nama dokter Tifa pasca mengunggah cuitannya di akun pribadi media sosial X, soal pandemi 2.0.
Dikarenakan dokter Tifa mengklaim dalam waktu dekat pemerintah bakal menerapkan lockdown.
Hal ini disebutnya bermula dari instruksi mewajibkan masyarakat memakai masker di tengah kualitas udara buruk. Polusi juga dinilai dokter Tifa ‘buatan’ dengan upaya terus menaburkan chemtrails.
“DEW dengan hasil kebakaran hutan dan gedung-gedung, Langit dibuat jadi Forecast, seakan-akan menghitam karena jelaga Batubara atau BBM,” dalam cuitan dokter Tifa.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia buka suara. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, dr.Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menekankan pandemi bukan suatu hal yang direkayasa.
“Itu adalah penyakit baru dan seperti pada umumnya penyakit baru sering menimbulkan fatalitas yang besar, karena kita belum kenal dengan penyakitnya,” jelas dr Nadia kepada media di Jakarta,Sabtu (9/9/2023).
Pernyataan dokter Tifa diyakini banyak pihak tidak berbasis sains, alias teori konspirasi belaka.
Dokter Nadia menambahkan, imbauan dirinya terkait penggunaan sejumlah obat untuk mencegah jatuh sakit seperti ivermectin dan hidrokloroquin juga belum memiliki kajian ilmiah lebih lanjut.
Dokter Nadia juga berpesan agar masyarakat bijak memilah informasi, khususnya di media sosial.
“Terkait polusi kalau kita lihat ini kondisi yang saat ini terjadi dan sudah banyak kajian ilmiah hubungan antara kualitas udara buruk dengan kesehatan, dan karena kualitas udara tidak baik, maka sebagai upaya pencegahan salah satunya penggunaan masker, WFH, juga mengurangi polutan, khususnya emisi kendaraan,” ucap dr Nadia.
Dalam kesempatan terpisah, Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono memastikan isu pandemi 2.0 adalah disinformasi.
“Hoax itu,” katanya singkat saat ditemui di Gedung DPR RI.(rel-jae)



























