MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Pengamat Ekonomi Sumatera Utara,Gunawan Benjamin mengatakan, pantauan dari PIHPS, harga beras kualitas bawah di Sumut masih mengalami kenaikan. Dalam dua hari terakhir harga beras kualitas bawah naik 50 hingga 150 per Kg.
“Dan pada hari ini harga beras kualitas bawah ada yang ditransaksikan dikisaran 12.300 per Kg. Dan untuk harga beras medium juga naik 150 per Kg kemarin, dan saat ini masih bertahan di level 13.200 dan 13.450 per Kg,” kata Gunawan, Rabu (13/9/2023) sore.
Ditambahkan Gunawan, kenaikan harga beras super juga terjadi di Sumut. Kenaikannya lebih tinggi yakni 150 hingga 200 per Kg. Dan dua jenis beras super di Sumut saat ini ditransaksikan 14.000 dan 14.400 per Kg nya. Harga beras secara keseluruhan masih naik, padahal Bulog sudah menggelontorkan beras SPHP.
“Intervensi yang dilakukan Bulog dengan menggelontorkan beras ke pasar ataupun dijual langsung belum mampu menahan kenaikan harga beras lainnya,” ujarnya.
Gejolak harga beras pada dasarnya, Sebut Gunawan mampu diredam dengan kehadiran SPHP. Karena sekalipun ketersediaan beras Bulog tidaklah dominan di pasar. Namun SPHP yang lebih murah serta diberikan dalam bentuk bansos ke masyarakat, pada dasarnya akan menurunkan permintaan beras di pasar. Sehingga gejolak harganya bisa lebih diredam.
“Namun jika digunakan untuk menekan harga beras lain, tentunya hal tersebut sangat sulit. Pertama, harga beras Bulog sendiri sudah dinaikkan 15.6% di awal September tahun ini, menjadi 11.500 per Kg. Memang masih lebih murah dibandingkan dengan harga beras kualitas bawah sekalipun. Tetapi untuk menggiring beras kualitas bawah turun ke 11.500 juga mustahil dilakukan saat ini, “jelas Gunawan.
Masalah mendasar kenaikan harga beras adalah tingginya biaya input produksi yang diperburuk dengan cuaca ditambah negara pengekspor beras melakukan pembatasan ekspor. Masalah cuaca yang memicu terjadinya penurunan produksi. Ini masalah mendasar harga beras belakangan ini.
“Sementara itu, harga cabai merah terpantau naik turun berlakangan ini. Harga cabai merah ditransaksikan naik pada hari ini dikisaran 40.000 per Kg di kota medan. Atau naik sekitar 11% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya. Tak ubahnya dengan beras yang mengalami penurunan produksi, cabai pada dasarnya juga mengalami penurunan produksi akibat cuaca yang kurang bersahabat,” Ucap Gunawan.
Gunawan menyebutkan, pihaknya trus melakukan kajian terkait dengan harga cabai yang tidak bergejolak. Studi yang saya lakukan, harga cabai pada bulan ini pada dasarnya berpeluang naik seiring dengan banyaknya sentra produksi cabai yang mengalami penurunan produksi. Nah harga cabai yang mampu bergerak dalam rentang 40 hingga 50 ribu per Kg dan tidak naik menjadi tanda tanya besar.
Apakah dikarenakan oleh melemahnya konsumsi masyarakat khususnya untuk konsumsi cabai. Atau memang dari sisi persediaan mengalami kenaikan. Dan dari studi yang saya lakukan konsumsi cabai memang melambat seiring dengan belanja usaha kuliner yang menurun untuk sejumlah komoditas pangan termasuk cabai.
“Sementara dari sisi persediaan, wilayah Kabupaten Karo masih menjadi penyumbang persediaan atau stok cabai di sumut khususnya Kota Medan. Dan secara kuantitas pada dasarnya tidak jauh berbeda. Sehingga saya berkesimpulan bahwa tren harga cabai mahal untuk waktu yang lama (setidaknya hingga November) berpeluang terjadi,” pungkas Gunawan. (Jae)



























