MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Aroma rempah yang selama ini lekat dengan dapur dan tradisi akan dihadirkan dalam suasana berbeda melalui kegiatan budaya bertajuk Spektakel Lidah Gen Z – Eksplorasi Rempah di Ruang Performatif. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 10–11 April 2026 di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jalan Sei Siguti 17A/30, Sei Sikambing D, Medan Petisah.
Program ini diinisiasi Pengurus Harian Teater Rumah Mata sekaligus penggagas kegiatan, Herawanti Handayani, dengan dukungan Program Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan Kategori Pendayagunaan Ruang Publik melalui Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 Kementerian Kebudayaan. Melalui pendekatan ruang performatif, kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan kembali rempah Nusantara kepada Generasi Z yang dinilai semakin jauh dari nilai sejarah dan budaya rempah.
Herawanti Handayani mengatakan, rempah selama berabad-abad menjadi komoditas strategis sekaligus simbol kedaulatan bangsa. Namun, saat ini rempah semakin terpinggirkan dan lebih dikenal sebatas bumbu dapur tanpa dipahami nilai sejarah maupun identitas budayanya.
“Kami ingin menghadirkan rempah dalam cara yang lebih dekat dengan generasi muda. Tidak hanya dikenalkan sebagai bahan masakan, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah, identitas, dan kreativitas budaya yang bisa mereka eksplorasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini menyasar Generasi Z berusia 13 hingga 26 tahun dengan target partisipasi sekitar 1.500 peserta dari sekolah, sanggar, dan komunitas budaya di Kota Medan serta wilayah Sumatera Utara. Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan ini diperkirakan akan menghadirkan sekitar 1.000 pengunjung.
Pendiri Teater Rumah Mata, Agus Susilo, menilai pendekatan seni pertunjukan menjadi cara efektif untuk membangun kedekatan generasi muda dengan rempah. Menurutnya, ruang performatif memungkinkan rempah dipahami tidak hanya melalui pengetahuan, tetapi juga melalui pengalaman rasa, aroma, dan ekspresi artistik.
“Kami ingin generasi muda mengalami rempah secara langsung melalui tubuh dan kreativitas mereka. Ketika rempah hadir dalam seni pertunjukan, diskusi, hingga lomba kreatif, maka rempah tidak lagi terasa jauh atau kuno,” kata Agus.
Rangkaian kegiatan terbagi dalam tiga kategori utama, yakni diskusi dan workshop, lomba berbasis rempah, serta pertunjukan seni. Pada kategori diskusi dan workshop akan digelar dialog lintas gagasan serta workshop penciptaan karya seni berbasis eksplorasi rempah.
Sementara itu, lomba berbasis rempah meliputi Taman Rempah 1×1 Meter Awards, Raba Belai Cium Rempah, Resep Racik Rempah, Invitasi Talenta Bertema Rempah yang mencakup lomba akting, baca puisi, konten kreator, dan fashion show, serta pemilihan Duta Rempah.
Untuk kategori pertunjukan seni, pengunjung akan disuguhkan Panggung Eksebisi Rempah, Dongeng Kasih Kisah Rempah, hingga pertunjukan teater bertema rempah. Kegiatan ini juga dirancang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, dinas pendidikan dan kebudayaan, dinas pariwisata, pelaku usaha, akademisi, budayawan, hingga petani rempah sebagai bagian dari kolaborasi lintas sektor.
Menurut Agus Susilo, festival ini tidak hanya menjadi ruang edukasi budaya, tetapi juga diharapkan mendorong lahirnya produk ekonomi kreatif berbasis rempah yang dikembangkan generasi muda.
“Kalau generasi muda sudah merasa memiliki, rempah bukan hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga bisa menjadi peluang ekonomi kreatif yang menjanjikan,” katanya.
Melalui pendekatan performatif dan kompetitif, Spektakel Lidah Gen Z diharapkan mampu membangun kembali kedekatan Generasi Z dengan rempah sebagai bagian dari identitas Nusantara sekaligus menjadikan Medan sebagai salah satu kota pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya rempah. (RED)



























