ACEH TAMIANG (HARIANSTAR.COM) – Akibat bencana banjir dan longsor, hampir satu bulan lamanya ,listrik masih padam total dan jaringan internet terputus di sejumlah besar wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, setelah hari pascabencana banjir melanda.
Informasi diperoleh dari hasil invetigasi jurnaslis Langkat Rudi Dalimuthe bersama tim, Sabtu (20/12/2025) lalu di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Salah satunya di Kampung Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, listrik total padam dan kondisi masyarakat memperhatinkan. Disana terdapat lebih kurang 300 kepala keluarga (KK) atau sekitar seribuan orang, saat ini keseluruhannya masing bertempat tinggal di tenda – tenda pengungsian.
Sebabnya, karena rumah mereka hilang dan hancur terbawa arus, serta rusak parah. Selebihnya ditemukan bangunan rumahnya masih utuh namun tidak bisa ditempati lantaran tertimbun lumpur setinggi pinggang orang dewasa.
Untuk fasilitas umum seperti puskesmas, kantor desa, sekolah dan lainnya juga lumpuh dikubur lumpur dengan ketinggian barvariasi.
Para korban bencana mendapatkan logistik dari berbagai pemerintah daerah seperti Pemko Medan, Bandung, Riau dan beragam relawan luar daerah seperti bantuan dari warga Langkat dan Medan sekitar.
Untuk kebutuhan sembako dan pakaian tercukupi, namun sembako tetap diterima sebagai stok lantaran kondisi kampung tidak tahu kapan bisa kembali pulih seperti semula untuk menjalankan aktivitas harian.
Paling dibutuhkan warga adalah air bersih. Saat ini air bersih sangat minim, meraka kekurangan air untuk memenuhi kebutuhan harian.
Kini Kampung Babo masih semrawut dan kumuh: air bekas banjir masih tergenang, lumpur dimana – mana, dan batang kayu beragam ukuran berserakan di lokasi.
Dari keterangan warga setempat, banjir terjadi mulai 25 November 2025, air yang datang berangsur sehingga memberikan kesempatan warga untuk bisa mengungsi di lokasi lebih aman, yakni di pemukiman warga Bukit Pulau Tiga.
Menuju ke lokasi, warga berjalan kaki dengan menempuh jarak sekitar kurang lebih 7 sampai belasan kilometer dari perkampungan.
Air yang datang bersama lumpur dan batang kayu, puncak ketinggian air hingga mencapai 10 meter. Banjir benar – benar surut dan bisa dilalui jalan kaki setelah lima hari berlalu



























