BANDUNG (HARIANSTAR.COM) – Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung melaporkan satu dari 10 pasien alami gejala Influenza A H3N2 subclade K atau ‘super flu’ meninggal dunia.
Pasien yang dilaporkan meninggal dunia karena memiliki riwayat penyakit bawaan yang begitu berat.
Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung dr Yovita Hartantri sejak Agustus hingga November 2025, timnya sudah memeriksa sejumlah pasien yang diduga terpapar super flu.
Namun pada November 2025, kasus itu dipastikan mengalami penurunan.
“Dari semua sampel yang kami kerjakan dan kita periksa, kami baru dapat data di Januari ini. Nah itu ada 10 kasus yang dinyatakan Influenza A H3N2 subclade K,” katanya di Auditorium Gedung MCHC RSHS Bandung, kemarin.
Dari hasil review, 10 kasus itu menimpa pasien dengan usia beragam. Dua bayi usia 9 bulan dan 1 tahun, pasien umur 11 tahun hingga mayoritas diderita pasien usia 20 hingga 60 tahun.
“Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high cap dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang terus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain,” ungkapnya.
“Ada stroke, ada gagal jantung dan terakhir karena ada infeksi dan ada gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kita tidak bisa menyatakan karena memang dia mungkin komorbid yang banyak,” imbuhnya.
Dokter spesialis paru dr Erlang Samoedro, SpP(K) menjelaskan infeksi super flu atau influenza dapat mengakibatkan peradangan yang menyebabkan kambuhnya komorbid.
Infeksi dapat memicu kekambuhan kondisi komorbid yang kondisi sebelumnya mungkin sudah stabil.
“Influenza memang bisa berakibat fatal pada orang yang punya komorbid. Hal ini terjadi karena rusaknya pertahanan tubuh akibat virus influenza itu dan terjadi inflamasi. Nah, inflamasi ini yang menyebabkan kambuhnya komorbid,” ujar dr Erlang yang tidak terlibat dalam penanganan pasien.



























