MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Kehebohan media sosial akan link video sok imut terus berkembang. Terkini istilah pencarian ‘sok imut jilbab hitam’ menjadi salah satu frasa yang paling banyak dicari oleh warganet.
Video viral itu menampilkan remaja perempuan berkerudung dan baju hitam dengan ekspresi manja atau manyun yang dibuat-buat.
Adegan juga menampilkan tangan seorang lelaki yang memegang dagu atau pipi sang perempuan, mengubah ekspresinya menjadi imut.
Namun, berdasarkan penelusuran di sejumlah platform seperti X (Twitter) dan TikTok, klaim yang beredar di kalangan warganet mulai mendapatkan penjelasan.
Video “sok imut jilbab hitam” yang banyak beredar itu diduga kuat hanyalah sebuah teaser atau potongan bagian depan dari sebuah video berdurasi lebih panjang yang berisi konten dewasa.
Dalam versi lengkap yang disebut-sebut tersebut, sosok perempuan berjilbab hitam dan lelaki yang hanya terlihat tangannya itu melakukan aksi dewasa yang langsung membuat ‘basah’.
Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh sejumlah akun tidak bertanggung jawab.
Di kolom komentar dan deskripsi video-video teaser tersebut, bertebaran iming-iming tautan (link) yang diklaim mengarah pada “video versi panjang” atau “video full”.
Akun-akun ini biasanya mendorong rasa ingin tahu netizen dengan narasi menggoda untuk meningkatkan klik.
Namun, masyarakat diimbau untuk sangat berhati-hati. Tautan-tautan yang beredar menunjukkan bahwa kemungkinan besar link tersebut tidak mengarah pada konten video seperti yang dijanjikan.
Sebaliknya, banyak dari tautan tersebut justru mengarahkan pengguna pada laman-laman berisi iklan judi online, situs phishing pencuri data, atau halaman berisi pop-up yang berpotensi menyebarkan malware.
Imbauan dari para penggiat keamanan siber pun seragam. Jangan sekali-kali mengklik link yang mencurigakan dari sumber tidak terpercaya.
Rasa penasaran terhadap konten viral bisa menjadi pintu masuk bagi ancaman digital yang dapat merugikan, mulai dari kebocoran data pribadi hingga kerugian finansial.
Lebih baik abaikan dan laporkan akun-akun yang menyebarkan tautan berbahaya tersebut kepada pihak platform media sosial.



























