IRAN (HARIANSTAR.COM) – Televisi Iran mengumumkan “gugurnya sebagai syahid” Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Pengumuman ini disampaikan hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa ia telah memastikan kematian Khamenei dan menyebut ada “kandidat-kandidat yang baik” untuk menggantikannya.
Seorang komandan Garda Revolusi Iran mengatakan kepada kantor berita Fars bahwa pembunuhan para pemimpin di Iran “tidak akan memberi dampak sedikit pun terhadap jalannya pertempuran ini.” seperti dikutip dari gaza media, Mingguv(1/3/2026).
Ia menegaskan bahwa struktur sistem pemerintahan Iran dirancang sedemikian rupa sehingga mampu segera menunjuk sosok yang kompeten setiap kali seorang pemimpin terbunuh.
Sementara itu, stasiun televisi Amerika, CBS News, mengutip sumber intelijen dan militer yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa sekitar 40 pejabat Iran tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang terus berlangsung sejak Sabtu pagi.
Sejak Sabtu pagi, AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Ledakan terdengar di ibu kota Teheran serta sejumlah kota lain seperti Qom, Isfahan, Kermanshah, dan Karaj.
Menurut militer Israel, sekitar 500 target di Iran telah diserang, termasuk sistem pertahanan udara dan peluncur rudal. Di sisi lain, Al Jazeera melaporkan bahwa sirene peringatan di Israel berbunyi hingga 528 kali akibat serangan balasan dari Iran.
Teheran membalas dengan meluncurkan gelombang besar rudal ke berbagai wilayah di Israel. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan satu warga Israel dan melukai 121 lainnya. Garda Revolusi Iran juga menyatakan telah menyerang sejumlah pangkalan dan pusat militer Amerika serta Israel di kawasan tersebut.
Negara-negara Teluk menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi yang dinilai sangat berbahaya ini, serta mengecam keras tindakan yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap persatuan, keutuhan wilayah, dan kedaulatan negara-negara Arab
Menlu Iran Pastikan Khamenei Masih Hidup
Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memastikan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei masih hidup dan dalam keadaan baik di tengah gelombang serangan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan Menlu Iran itu menepis klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Khamenei telah tewas dalam serangan tersebut.
“Sejauh yang saya tahu, hampir semua pejabat selamat dan sehat. Kita mungkin kehilangan satu atau dua komandan, tetapi itu bukan masalah besar,” ujarnya dalam wawancara dengan NBC News pada Sabtu waktu setempat, 28 Februari 2026 dilansir dari rmol.
Araghchi menyindir upaya perubahan rezim sebagai sesuatu yang mustahil.
“Misi Mustahil. Anda tidak bisa melakukan perubahan rezim sementara jutaan orang mendukung rezim yang disebut-sebut ini,” tegasnya.
Terkait dampak serangan gabungan AS dan Israel, Araghchi meremehkan tingkat kerusakan yang terjadi dan menekankan respons cepat militer Iran.
Menurutnya, pasukan Iran mampu memulai serangan balasan kurang dari dua jam, menunjukkan bahwa sistem pertahanan dan komando tetap berjalan.
Ia juga mengecam keras serangan terhadap sekolah dasar perempuan di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 40 orang.
“Serangan ini tidak beralasan, ilegal, dan sama sekali tidak sah serta bertentangan dengan hukum internasional,” ujarnya.
Dalam wawancara itu, Araghchi juga menepis spekulasi bahwa Iran tengah mengembangkan rudal yang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat.
“Tidak, tidak, kami tidak memiliki kemampuan seperti itu. Kami sengaja menjaga jangkauan rudal kami di bawah 2.000 kilometer. Rudal kami hanya untuk pencegahan dan pertahanan. Rudal tersebut bukan untuk agresi,” tegasnya.
Serangan terbaru terjadi setelah Israel melancarkan operasi bernama “Lion’s Roar”, disusul pernyataan Trump bahwa pasukannya melakukan “major combat operations” di Iran guna melindungi rakyat Amerika dari ancaman yang dianggap mendesak.
Situasi memanas ini berlangsung di tengah pembicaraan program nuklir Iran antara Washington dan Teheran yang dimediasi Oman, dengan putaran terakhir di Jenewa berakhir tanpa terobosan berarti.



























