MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, Gunawan harga CPO selama bulan septmber bergerak dalam rentang sempit antara 3.885 ringgit per ton – 3.950 per tonnya. Tekanan terjadi pada harga CPO di awal pekan, dan harga bergerak berbalik naik di perdagangan hari jumat ini.
Harga CPO sejauh ini ditransaksikan dikisaran 3.950 ringgit per tonnya. Kinerja harga CPO yang relatif tidak banyak berubah tersebut seharusnya bisa menjaga harga TBS di tingkat petani, katanya, Jumat (6/9/2024).
Namun lanjut Gunawan, harga CPO terpukul oleh penguatan mata uang rupiah yang terjadi belakangan ini. Bahkan untuk hari jumat ini saja mata uang Rupiah menguat dikisaran level 15.350 per US Dolar. Dalam sepekan terakhir Rupiah menguat 200 poin, yang akan menekan pendapatan para eksportir produk turunan sawit di wilayah ini, tambahnya.
Katanya, salah satu pemicu pelemahan harga CPO belakangan ini lebih dipengaruhi oleh kinerja eksor yang melemah. Ditambah lagi kinerja mata uang US Dolar yang turut melemah khususnya terhadap mata uang ringgit Malaysia dan Rupiah. Sehingga saya menilai harga lelang CPO KPBN (charisma pemasaran bersama nusantara) berpeluang bergerak mendatar dengan kecenderungan turun, ujarnya.
Saya memperkirakan harga CPO akan berada dalam rentang 12.900 hingga 13.100 per Kg. Jika membandingkan harga CPO dengan harga komoditas lainnya yang menjadi kompetitor CPO seperti kacang kedelai, sebenarnya harga kacang kedelai berada dalam tren naik belakangan ini.
“Sehingga komoditas lain justru seharusnya menjadi katalis positif bagi harga CPO,” imbuhnya.
Ditambahkannya, bagi Sumut penguatan mata uang Rupiah justru lebih memberikan beban bagi industri kelapa sawit hingga ke petani sawitnya. Penguatan Rupiah akan mengurangi pendapatan dari sisi ekspor, dan bisa menekan harga lelang CPO berikut harga TBS di level petani, tutup Gunawan. (Abi)