MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Di tengah derasnya arus informasi pasar modal dan pergerakan harga saham yang berubah setiap detik, indeks saham hadir sebagai kompas penting bagi investor. Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara, Muhammad Pintor Nasution, mengatakan bahwa memahami indeks saham merupakan langkah awal bagi siapa pun yang ingin memahami arah pasar dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
“Indeks saham itu ibarat cermin besar yang menggambarkan bagaimana kinerja saham-saham di bursa. Dari sana, kita bisa melihat apakah pasar sedang tumbuh, stagnan, atau menurun,” ujar Pintor, Jumat (1/11/2025).
Menurutnya, di Indonesia terdapat beberapa jenis indeks yang menjadi acuan utama investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah indikator yang mencerminkan seluruh pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia. “Ketika IHSG naik, berarti secara umum harga saham di bursa ikut naik. Karena itu, IHSG sering disebut sebagai termometer ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Selain IHSG, BEI juga memiliki indeks lain yang lebih spesifik, seperti LQ45 dan IDX30 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar dan paling likuid. Ada pula Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) bagi investor yang berinvestasi sesuai prinsip syariah. BEI juga mengembangkan indeks tematik seperti IDX ESG Leaders untuk perusahaan berkomitmen pada lingkungan dan keberlanjutan, serta IDX Growth30 bagi saham-saham berpotensi tumbuh tinggi.
Pintor menekankan bahwa memahami indeks saham tidak sekadar membaca angka naik atau turun. Di balik setiap pergerakan indeks terdapat banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, hingga situasi global. “Indeks akan naik ketika ekonomi tumbuh, konsumsi meningkat, dan laba perusahaan membaik. Tapi jika muncul ketidakpastian global seperti kenaikan suku bunga Amerika Serikat atau konflik geopolitik, indeks bisa terkoreksi. Jadi, investor perlu memahami konteks di balik data,” katanya.
Ia mencontohkan, pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi pelajaran penting bagi pelaku pasar. Saat itu, IHSG sempat anjlok lebih dari 30 persen karena kepanikan global, namun perlahan bangkit seiring pemulihan ekonomi dan kebijakan fiskal pemerintah. “Itu menunjukkan bahwa indeks bukan hanya angka, tapi juga refleksi daya tahan ekonomi dan kepercayaan masyarakat terhadap masa depan,” ujarnya.
Bagi investor pemula, lanjutnya, indeks dapat menjadi panduan untuk menilai kondisi pasar dan menentukan strategi investasi. Dengan memantau IHSG dan indeks sektoral, investor bisa mengenali tren pasar—apakah sedang bullish, bearish, atau sideways. Indeks juga menjadi dasar bagi produk investasi seperti reksa dana indeks dan Exchange-Traded Fund (ETF), yang memungkinkan investor berinvestasi secara pasif mengikuti pergerakan pasar.
Selain itu, pergerakan indeks juga sering mencerminkan arus modal asing. Ketika IHSG stabil dan menunjukkan tren positif, kepercayaan investor global terhadap pasar Indonesia meningkat. “Stabilitas indeks menjadi simbol stabilitas ekonomi dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia,” tambah Pintor.
Ia mengingatkan bahwa pergerakan IHSG tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar global seperti Dow Jones, Nasdaq, Nikkei 225, dan MSCI Emerging Markets Index. “Pasar dunia saat ini saling terhubung. Jika bursa besar di luar negeri melemah, efeknya bisa langsung terasa di Asia, termasuk Indonesia. Karena itu, investor lokal harus memahami hubungan antar pasar agar tidak salah membaca arah,” ujarnya.
Pintor menilai bahwa indeks saham bukan sekadar indikator teknis, melainkan juga gambaran besar tentang pertumbuhan, harapan, dan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. “Ketika melihat IHSG di layar berita keuangan, jangan hanya membaca angka. Lihatlah sebagai cermin perjalanan ekonomi bangsa—naik, terkoreksi, lalu bangkit lagi. Dari sana, kita belajar bahwa pasar, seperti kehidupan, selalu bergerak dinamis,” tutupnya. (RED)


























