MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Di Sumut daging ayam masih menjadi menu makanan favorit masyarakat. Sejauh ini daging ayam juga masih menjadi menu favorit program MBG (makan bergizi gratis). Sementara jika dilihat dari perubahan harga daging ayam yang relatif stabil dalam rentang 32 hingga 40 ribu per Kg di sejumlah daerah bagian timur Sumut, menunjukan bahwa konsumsi daging ayam masyarakat Sumut saat Nataru (natal dan tahun baru) mengalami kenaikan yang signifikan.
Dari hasil observasi di lapangan, pasokan ayam hidup untuk kebutuhan selama sepekan Nataru sebenarnya alami kenaikan sekitar 67% dibandingkan sepekan sepekan sebelumnya.
Kenaikan pasokan tersebut idealnya bisa menekan harga daging ayam. Namun faktanya dilapangan harga daging ayam bertahan stabil (mahal) dalam rentang 32 hingga 40 ribu per Kg, ujar Gunawan Benjamin Pengamat Ekonomi Sumut di medan, Rabu (31/12).
Di bulan Desember ini, rata-rata konsumsi daging ayam masyarakat Sumut 14% lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata bulan sebelumnya.
Namun alami lompatan hingga 67% dibandingkan sepekan sebelumnya, mengacu pada stabilnya harga daging ayam selama sepekan Nataru.
Demand yang mengalami kenaikan ini selain diakibatkan oleh kenaikan demand (permintaan) rutin jelang pergantian tahun, juga tertolong oleh bantuan sosial tunai yang digelontorkan pemerintah.ujar Gunawan.
Bansos dipenghujung tahun yang dibagikan oleh pemerintah juga memberikan dorongan besar terhadap kenaikan sejumlah harga komoditas pangan.
Seperti harga cabai merah yang alami kenaikan harga dari kisaran 20 ribuan menjadi 26 ribuan per Kg, cabai hijau naik dari isaran 17 ribuan menjadi 22 ribuan per Kg, harga cabai caplak naik dari kisaran 40 ribuan menjadi 45 ribuan per Kg, dan harga cabai rawit dari kisaran 56 ribuan menjadi 66 ribuan per Kg, kata Gunawan.
Ditambahkan Gunawan, melanjutnya hal serupa juga terjadi pada harga ikan segar seperti ikan Tongkol yang naik dari kisaran 30 menjadi 32 ribuan per Kg.
Secara keseluruhan belanja masyarakat terdongkrak khususnya untuk kebutuhan protein, sekalipun pemerintah daerah dibanyak tempat meniadakan perayaan malam Tahun Baru setelah bencana besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera, pungkasnya. (Abi)



























