MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Dalam rilis BPS (Badan Pusat Statisik) sebelumnya, Sumut tercatat mengalami inflasi sebesar 0.19% secara bulanan atau month to month. Dimana kontribusi paling besar kenaikan inflasi selama bulan Juli dipicu oleh kenaikan pada komoditas cabai rawit, beras hingga tomat. Sementara itu disisi lainnya cabai merah dan telur ayam menyumbang deflasi bulanan.
Pada bulan Agustus ini, harga sejumlah kebutuhan pokok di Sumut masih berpeluang untuk memicu kenaikan laju tekanan inflasi. Harga daging ayam masih akan memberikan kontribusi inflasi, meskipun tren kenaikan harganya sudah berlangsung sejak pertengahan bulan Juli kemarin. Dan harga tertinggi di penghujung akhir bulan Juli, juga masih bertahan hingga saat ini, ujar Gunawan Benjamin Pengamat Ekonomi sumatera Utara di Medan, Selasa (4/8).
Dan diproyeksikan harga daging ayam akan bertahan mahal dikisaran 38 hingga 40 ribuan per Kg selama bulan agustus. Demkian halnya juga dengan telur ayam yang berpeluang mendorong terjadinya inflasi. Beras besar kemungkinan akan berkontirbusi netral selama bulan agustus ini. Potensi kenaikan harga beras berpeluang terhenti pada bulan ini, ucap Gunawan.
Selanjutnya, harga minyak goreng dan gula pasir juga berpeluang menyumbang inflasi selama agustus. Kenaikan biaya input produksi sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia berpeluang menciptakan harga minyak goreng yang lebih mahal.” Untuk gula pasir, potensi kenaikannya lebih didorong oleh musim panen yang sudah berakhir. Dan harga pokok produksi gula pasir hingga tutup tahun juga diproyeksikan alami peningkatan, “katanya.
Gunawan melihat tren kenaikan laju tekanan inflasi di Sumut masih berlanjut. Bahkan tekanan harga berpeluang lebih besar jika wilayah lain diluar Sumut mengalami masalah produksi akibat gangguan El Nino. Kenaikan harga tidak terelakkan meskipun Sumut masih relatif aman dari gangguan El Nino. Disaat terjadi disparitas harga antar wilayah, maka Sumut tetap akan terdampak saat pasar menciptakan titik keseimbangan yang baru. Ungkapnya.
TPID (tim pengendali inflasi daerah) harus bekerja optimal untuk mengendalikan inflasi kedepan. Disisi lain tersirat kabar bahwa pembayaran gaji ASN yang tersendat di sejumlah daerah di Indonesia.
Jika wailayah tersebut juga mengalami kenaikan harga karena sejumlah faktor seperti el nino. Maka kenaikan laju tekanan inflasi berpeluang menciptakan arus kas negatif keuangan rumah tangga, terlebih para ASN yang daerahnya alami kesulitan membayar gaji, pungkas Gunawan. (Abi)




















