MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Kepala PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara, Muhammad Pintor Nasution, mengingatkan masyarakat agar memahami profil risiko sebelum menentukan strategi investasi di pasar modal. Hal ini penting agar investasi yang dilakukan selaras dengan tujuan keuangan dan kemampuan masing-masing investor dalam menghadapi fluktuasi pasar.
“Banyak orang mulai berinvestasi karena memiliki tujuan tertentu, seperti dana pendidikan anak, membeli rumah, atau persiapan pensiun. Namun, yang sering dilupakan adalah apakah strategi investasi tersebut sudah sesuai dengan profil risikonya,” ujar Muhammad Pintor Nasution, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, investasi di pasar modal merupakan salah satu cara efektif untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang. Namun, keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh pilihan produk, melainkan juga pemahaman terhadap profil risiko. Profil risiko menggambarkan sejauh mana seseorang siap menghadapi naik turunnya nilai investasi, termasuk kemungkinan mengalami kerugian.
Pintor menjelaskan, profil risiko dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tujuan investasi, jangka waktu, kondisi keuangan, pengetahuan, pengalaman, serta faktor psikologis. Investor dengan tujuan jangka pendek, misalnya dalam rentang satu hingga tiga tahun, umumnya memiliki kecenderungan konservatif. Sementara investor dengan tujuan jangka panjang, seperti dana pensiun, biasanya lebih siap menghadapi risiko yang lebih tinggi.
“Kondisi keuangan pribadi juga sangat menentukan. Stabilitas penghasilan, jumlah aset, serta kewajiban finansial memengaruhi kemampuan seseorang dalam menanggung risiko. Investor dengan dana darurat yang cukup tentu lebih siap menghadapi fluktuasi pasar,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan tingkat toleransi risiko, investor dibagi menjadi tiga kategori, yakni konservatif, moderat, dan agresif. Investor konservatif cenderung memilih instrumen berisiko rendah seperti deposito, obligasi pemerintah, dan reksa dana pasar uang. Investor moderat menyeimbangkan potensi pertumbuhan dan stabilitas melalui kombinasi saham berkapitalisasi besar, obligasi korporasi, serta reksa dana campuran. Sementara investor agresif lebih berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang melalui saham bertumbuh dan reksa dana saham, meski dengan tingkat volatilitas yang lebih tinggi.
“Perlu dipahami bahwa usia bukan satu-satunya penentu profil risiko. Tidak semua investor muda otomatis agresif, dan tidak semua investor senior selalu konservatif. Semua kembali pada tujuan, kondisi keuangan, dan kenyamanan pribadi terhadap risiko,” tegasnya.
Untuk mengetahui profil risiko, masyarakat dapat mengisi kuesioner yang disediakan oleh perusahaan sekuritas, manajer investasi, maupun platform investasi digital. Setelah profil risiko diketahui, investor dapat menyusun strategi investasi yang tepat dan melakukan diversifikasi guna mengurangi risiko.
Pintor juga mengingatkan bahwa profil risiko dapat berubah seiring waktu, mengikuti perubahan usia, kondisi keuangan, maupun tujuan hidup. Karena itu, evaluasi dan penyesuaian portofolio atau rebalancing perlu dilakukan secara berkala, minimal setahun sekali atau ketika terjadi perubahan signifikan dalam kondisi finansial.
“Investasi bukan soal siapa yang paling cepat untung, tetapi siapa yang paling konsisten dengan strategi yang sesuai dengan dirinya sendiri. Dengan pemahaman yang baik dan literasi yang memadai, investor dapat mengambil keputusan secara rasional dan fokus pada tujuan jangka panjang,” pungkasnya.
Bagi masyarakat yang ingin memperdalam pemahaman mengenai produk dan mekanisme pasar modal Indonesia, BEI menyediakan program edukasi Sekolah Pasar Modal yang dapat diakses melalui www.linktr.ee/indonesiastockexchange atau situs resmi BEI di www.idx.co.id.


























