MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Bursa saham di Asia bergerak mixed di perdagangan awal pekan ini. Sementara itu, IHSG ditutup menguat 0.47% di level 8.548,788. Kinerja IHSG menguat ditengah kekuatiran akan memburuknya kinerja ekonomi di China, yang bisa menyeret pelemahan pada kinerja pasar keuangan di Asia.
“Sejumlah emiten yang mendorong penguatan bursa di Asia diantaranya adalah BUMI, BBCA, TLKM, ANTM, INDY hingga JPFA”.ujar Gunawan Pengamat Ekonomi sumut di Medan Selasa (1/12).
Sejumlah rilis data penting tanah air seperti neraca perdagangan yang surplusnya menurun menjadi 2.4 Milyar Dolar pada bulan oktober, ditambah dengan laju tekanan inflasi yang hanya sebesar 2.72% secara tahunan, masih mendukung penguatan IHSG pada perdagangan hari ini.
Sementara itu, mata uang Rupiah yang dinaungi kabar positif kemungkinan pemangkasan bunga acuan The Fed, ditutup stabil di level 16.650 per US Dolar.katanya.
Baik IHSG dan mata uang Rupiah pada dasarnya bergerak dalam rentang angka yang sempit di awal perdagangan hari ini. Minimnya sentimen positif mata uang US Dolar, yang tercermin dari imbal hasil US Treasury 10 tahun stabil dikisaran 4.04%, ditambah dengan kinerja USD Index yang berada dikisaran level 99.3, membuat banyak mata uang di Asia bergerak relatif stabil selama sesi perdagangan berlangsung.
Terpisah harga emas dunia ditransaksikan menguat ke level $4.247 per ons troy, atau dikisaran harga 2.3 juta per gram. Harga emas berpeluang menembus level tertingginya dalam waktu dekat, jika AS melakukan langkah agresif dalam menurunkan besaran bunga acuannya.
Hal ini akan berdampak pada kemungkinan lompatan harga emas yang cukup signifikan di akhir tahun ini, pungkasnya.(rel/abi).


























