MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Di tengah hiruk-pikuk Medan, ada satu kawasan yang sejak dulu menjadi saksi perjalanan panjang para pendatang dari negeri seberang. Sebuah gapura berdiri tegak dengan warna-warni mencolok lengkap dengan ukiran-ukiran etnik khas India khususnya burung merak, simbol keindahan dan kemegahan.
Berada di Jalan Zainul Arifin, Kota Medan, gapura ini seolah memanggil siapa saja yang melintas. Di atasnya, tulisan “Selamat Datang di Little India” menyambut dengan hangat seakan mengajak setiap orang memasuki ruang kecil di Medan yang menyimpan aroma, warna, dan cerita dari tanah jauh di seberang lautan, INDIA.

Kawasan ini seakan berbisik bahwa masyarakat asal India bukan sekadar tamu, tetapi telah menyatu sebagai bagian dari wajah Sumatera Utara.
Jejak itu tak berhenti di satu sudut kota saja. Jika menelusuri lebih jauh, ada sebuah nama jalan yang diam-diam menyimpan cerita lain. Ia adalah Jalan Gandhi, nama ini tentu bukan sekadar penanda arah, tetapi simbol penghormatan pada seorang tokoh dunia asal India Mahatma Gandhi.
Kedua tempat ini menjadi penanda bahwa hubungan antara Medan dan komunitas India pernah dan masih meninggalkan jejak yang kuat. Kedua jalan ini mengingatkan kita bahwa keberagaman adalah hal penting dalam membentuk denyut Kota Medan hari ini.
Kisah Penamaan Jalan Gandhi
Sejarahwan Universitas Negeri Medan (Unimed) Erond Damanik membenarkan penamaan Jalan Gandhi di Medan merujuk pada tokoh besar di India, Mahatma Gandhi. Namanya diabadikan di Medan sejak 1972 pasca Indonesianisasi Jalan sehubungan dengan merebaknya sentimen anti-kolonial.

“Sejak tahun itu, semua nama jalan, nama bangunan, dan tempat dinganti ke nama Indonesia. Jalan Gandhi diberikan untuk menghormati orang India di Medan. Kemudian, nama tokoh besar lainnya seperti Sun Yat Sen dan Yose Rizal yakni tokoh besar yang berasal dari luar Medan, bahkan luar Indonesia. Ada juga Sutung School menjadi Sutomo, Indian School menjadi Khalsa, Wilhelmina Straat menjadi Jalan Sutomo dan lainnya,” ujar Erond.
Warga asal India di Medan, lanjut Erond sudah ada sejak era perkebunan. Mereka menjadi saksi bahkan pelaku sejarah transformasi kampung Medan menjadi kota. “Ketika Indonesia merdeka, Nehru dari India pertama kali negara sahabat yang mengakuinya. Lalu, 1949, mengingat besarnya populasi India di Sumut, India membuka Konjen dan berlangsung hingga hari ini,” ujarnya.
Erond mengatakan kehadiran Jalan Gandhi juga menjadi simbol pengakuan terhadap peran diaspora India dalam pembangunan Kota Medan. “Yah bisa dianggap seperti seperti itu. Konjen tidak hanya mengurusi bisnis dan ekonomi, tapi juga sosial budaya seperti India di Medan. Artinya, itu juga pengakuan pemerintah India di India sana terhadap populasinya di Medan,” katanya.
Penamaan jalan dengan referensi orang, lanjut Erond biasanya karena keteladanan dan kontribusi bagi bangsa, negara dan kota. “Biasanya, didedikasikan nama jalan sebagai apresiasi atas kontribusi sekaligus ingatan kolektif,” ujarnya.
Hal sama juga disampaikan sejarahwan Ichwan Azhari, penamaan nama tokoh besar menunjukkan upaya untuk mencari tauladan dari tokoh tersebut. Mahatma Gandhi dikenal sebagai tokoh perdamaian, anti kekerasan.
“Ada Jalan Sun Yat Sen, Jalan Yose Rizal, Jalan Multatuli, Jalan Gandhi dan lainnya. Penamaan jalan dengan nama tokoh ini bukan tradisi tapi inovasi dari pemimpin saat itu, setelah periode itu di masa kini gak ada lagi,” katanya.
Jalan Gandhi dalam Perspektif Sejarah dan Budaya
Sementara itu, Antropolog Universitas Sumatera Utara (USU), Avena Matondang menyampaikan penamaan Jalan Gandhi tidak bisa dilepaskan dari perjalanan dan pengaruh besar tokoh kemerdekaan India itu. Hubungannya dengan para pemimpin bangsa Indonesia Soekarno, Hatta, hingga Sutan Sjahrir sangat erat pada masa perjuangan.
“Apalagi di tahun 1937, Rabindranath Tagore sempat berkunjung ke Indonesia. Itu memperkuat ikatan intelektual dan kultural antara gerakan kemerdekaan Asia,” jelas Avena.
Tak heran, Medan menjadi salah satu kota yang mengabadikan nama Gandhi dan Sun Yat Sen sebagai nama jalan, sebuah simbol perlawanan Asia terhadap kolonialisme.
Namun, sejarah juga meninggalkan jejak paradoks. Nama Gandhi pernah dikaitkan dengan trauma kolektif masyarakat Medan akibat keberadaan penjara politik pasca peristiwa 1965. “Ini sinyalemen penting bagaimana satu nama bisa berubah makna dalam dimensi ruang dan waktu,” kata Avena.
Di sisi lain, komunitas India terutama migran Tamil membawa pengaruh besar terhadap wajah multikultur Medan. Dari agama, ekonomi, hingga pendidikan, ajaran Gandhi tentang Ahimsa, Satyagraha, Hartal, dan Swadeshi ikut memberi warna dalam dinamika sosial kota. Bahkan kehadiran lembaga Methodist yang berkembang di kawasan Gandhi menunjukkan bagaimana pengaruh India, agama, dan kolonial saling berkelindan membentuk ruang kota Medan.
Apresiasi Pemerintah India
Konsul Jenderal India di Medan, Shri Ravi Shankar Goel mengaku jadi satu kehormatan bagi India dengan adanya nama Jalan Gandhi di Kota Medan, yang mungkin jadi satu-satunya Jalan Gandhi di Indonesia.
“Kami sangat mengapresiasi, satu kehormatan ada Jalan Gandhi tersebut, kemarin juga kami melakukan aksi jalan damai untuk terus mengingat ajaran Mahatma Gandhi sendiri untuk tidak ada kekerasan. Kami juga punya banyak buku Mahatma Gandhi di kantor, bisa dibaca siapa saja yang mau tahu kisah dan teladan Mahatma Gandhi,” katanya.
Shri Ravi mengungkapkan penamaan Jalan Gandhi ini menjadi bukti hubungan baik antara Medan dan India. Ia juga menggarisbawahi tiga hari besar penting: 15 Agustus (Hari Kemerdekaan India), 26 Januari (Hari Konstitusi), dan 2 Oktober (Hari Lahir Gandhi). “Jadi bisa terlihat seberapa pentingnya Mahatma Gandhi, ia adalah bapak bangsa,” katanya.
Peringatan Gandhi Jayanti ke-156 di Medan
Sebelumnya Konsulat Jenderal India di Medan, bekerja sama dengan Universitas Sari Mutiara, menyelenggarakan peringatan hari lahir ke-156 Mahatma Gandhi, Kamis (2/10/2025).

Peringatan dimulai dengan Peace March di sepanjang Jalan Gandhi. Pawai damai itu melambangkan pesan abadi Gandhi tentang anti-kekerasan dan persatuan. Selain itu, kegiatan juga menyoroti kampanye global “Swachhata Hi Seva” (Kebersihan adalah Pelayanan) dan “Yiksit Bharat 2047” (India Maju-2047), menandai relevansi ajaran Gandhi dalam kehidupan modern.
Selepas Peace March, para peserta berkumpul di Universitas Sari Mutiara untuk tabur bunga pada patung Mahatma Gandhi, disaksikan para tamu kehormatan, antara lain Asisten Pemerintahan dan Kesra Pemprov Sumut Drs. Basarin Yunus Tanjung, Ketua Universitas Sari Mutiara Dr. Parlindungan Purba, Kadis Pariwisata Kota Medan M. Odi Anggia Batubara, hingga Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam.
Kehadiran tokoh-tokoh itu mempertegas eratnya hubungan budaya, pendidikan, dan persahabatan India–Indonesia.
Acara saat itu juga dirangkaikan dengan kuliah tamu bertajuk “Peluang Pendidikan di India”, penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Universitas Sari Mutiara dengan Ajeenkya D Y Patil University, Pune.
Relevansi Abadi Gandhi
Gandhi Jayanti yang juga ditetapkan PBB sebagai Hari Internasional Anti-Kekerasan setiap 2 Oktober, menegaskan relevansi abadi ajaran Gandhi. Di Medan, peringatan tahun ini tidak hanya mengenang seorang tokoh dunia, tetapi juga menyadarkan kembali masyarakat akan akar sejarah yang tertanam di ruang-ruang kota, termasuk di Jalan Gandhi.
Melalui perayaan budaya, kerja sama akademik, dan semangat persahabatan India–Indonesia, Jalan Gandhi di Medan menjadi jembatan antara sejarah dan masa depan: dari perlawanan kolonial menuju persaudaraan global yang damai.



























