ISTANBUL (HARIANSTAR.COM) – Sehari setelah pasukan zionis Israel melancarkan serangan udara terhadap lebih dari 160 sasaran di empat wilayah Suriah yaitu Suwayda, Daraa, Damaskus, dan pinggiran Damaskus yang menewaskan tiga orang dan melukai 34 lainnya di ibu kota saja.
3 negara yakni Turki, Arab Saudi dan Qatar menyatakan dengan tegas dukungan mereka kepada Suriah.
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, Kamis (17/7) menerima panggilan telepon dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.
Dukungan itu menyusul menyusul gelombang serangan udara mematikan Israel yang menghantam jantung kota Damaskus, menewaskan warga sipil, dan merusak lokasi-lokasi strategis pemerintah dalam apa yang disebut para pengamat sebagai tindakan agresi yang terang-terangan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Kamis (17/7) menelepon pemimpin transisi Suriah Ahmed al-Sharaa untuk membahas situasi keamanan yang memburuk dengan cepat. Erdogan mengecam serangan Zionis Israel sebagai “tidak dapat diterima” dan memperingatkan bahwa serangan tersebut merupakan “ancaman bagi seluruh kawasan.” Ia menegaskan posisi Turki: “Kami mendukung Suriah,” menurut pernyataan dari kantor komunikasi Ankara.
Begitu juga dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman yang berbicara dengan Ahmed al-Sharaa. Ia mendukung upaya Suriah untuk meredakan situasi dan memulihkan ketertiban di selatan. Pemimpin Saudi tersebut menegaskan kembali penolakannya terhadap “agresi Zionis Israel dan campur tangan eksternal,” menyerukan solidaritas regional dalam mempertahankan kedaulatan dan persatuan Suriah.
Serangan rudal Zionis Israel, yang menargetkan Markas Besar Staf Umum Suriah dan Istana Kepresidenan Tishreen, menewaskan tiga warga sipil dan melukai setidaknya 34 lainnya. Para pengamat menggambarkan serangan itu sebagai kelanjutan dari kampanye Tel Aviv selama puluhan tahun untuk mendestabilisasi negara-negara berdaulat di kawasan tersebut melalui kekuatan militer dan perang proksi.
Dalam pidato publik di hari yang sama, al-Sharaa memperingatkan ambisi jangka panjang Zionis Israel: “Sejak jatuhnya rezim sebelumnya, entitas Zionis Israel telah berusaha mengubah tanah kami menjadi medan pertempuran permanen. Kami tidak akan membiarkannya memecah belah rakyat kami atau merusak persatuan kami.”
“Kami dihadapkan pada dua pilihan,” katanya, “konfrontasi skala penuh atau memberi para pemimpin masyarakat ruang untuk berdialog. Kami memilih untuk melindungi tanah air.”
Ia juga menegaskan, perlindungan komunitas Druze merupakan prioritas nasional, mengumumkan koordinasi dengan faksi-faksi lokal dan para pemimpin agama di Sweida untuk memulihkan stabilitas setelah seminggu penuh kekerasan. “Rakyat kami adalah penjaga sejati tanah ini,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa persatuan Suriah tidak akan dipatahkan oleh rencana-rencana Israel.
Meskipun Damaskus berhasil menengahi gencatan senjata di Sweida—dengan penarikan unit-unit militer dari wilayah tersebut—perpecahan internal tetap ada. Meskipun beberapa pemimpin Druze menyambut baik gencatan senjata tersebut, yang lain, seperti Sheikh Hikmat al-Hijri, telah berjanji untuk melanjutkan perlawanan terhadap pasukan yang mereka sebut sebagai milisi yang didukung pemerintah dan terlibat dalam agenda-agenda yang didukung Israel.
Terlepas dari tantangan-tantangan ini, para pemimpin Suriah tetap teguh pada pendiriannya. “Tidak ada tempat bagi ambisi pihak lain di tanah kami. Kami akan memulihkan martabat Suriah dan harus mengutamakan kepentingan nasional di atas segalanya,” tegas al-Sharaa, menuduh Zionis “Israel” berupaya menggagalkan pemulihan Suriah dengan mengeksploitasi ketegangan sektarian dan merekayasa kekacauan melalui serangan udara dan transaksi rahasia.
Menurut pernyataan dari kantor kepresidenan Suriah, para pemimpin kawasan itu menyatakan solidaritas penuh terhadap Suriah dan menegaskan penolakan mereka atas segala bentuk campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Suriah.
Dewan Emirat Qatar menyampaikan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, memnerikan dukungan penuh terhadap keutuhan wilayah Suriah dan kedaulatannya.
Emir Qatar menegaskan, negaranya tetap pada posisi prinsipil yang mengecam keras segala bentuk serangan Israel terhadap wilayah Suriah.
Menurutnya, tindakan militer Israel merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional Suriah, melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta mengancam stabilitas kawasan.
Ketiga pemimpin tersebut juga menekankan pentingnya menjaga kesatuan dan keutuhan wilayah Suriah, serta mendukung hak Suriah untuk mengendalikan seluruh wilayahnya secara penuh.
Mereka menegaskan, memulihkan keamanan dan stabilitas nasional adalah hal yang sangat penting demi kesejahteraan seluruh warga Suriah.
Sumber: Anadolu, Islamtimes